• Tentang Kami
  • Contact
Senin, 29 Juni 2026
Wartatangerang.com
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Kabupaten Tangerang
  • Kota Tangerang
  • Kota Tangsel
  • Banten
  • Nasional
  • Indeks
  • Home
  • Kabupaten Tangerang
  • Kota Tangerang
  • Kota Tangsel
  • Banten
  • Nasional
  • Indeks
No Result
View All Result
Warta Tangerang
No Result
View All Result
Home Opini

Nyawa dan Ujian Reputasi Negara dalam Latsarmil Koperasi Merah Putih

Oleh: Rizki
Senin, 29 Juni 2026 / 12:32 WIB
Share on FacebookShare on Twitter

Saya berhenti membaca kabar itu bukan karena Nola Dya Sari satu almamater dengan saya di Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Saya berhenti karena kata “peserta kelima” terasa terlalu dingin untuk menyebut seorang manusia yang meninggal dalam sebuah program negara. Di balik istilah itu ada nama, keluarga, riwayat hidup, dan masa depan yang berhenti terlalu cepat.

READ ALSO

PP 28/2024 Dibaca Setengah

Kampus atau Kantin Negara? Ketika Skripsi Kalah Sama Sendok Nasi

Nola disebut meninggal dunia setelah mengikuti rangkaian latihan dasar militer bagi calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Berdasarkan keterangan yang diberitakan media, pada hari yang sama ia masih mengikuti kegiatan pembelajaran dan tidak dilaporkan mengalami keluhan kesehatan. Menjelang malam, ia mengeluhkan sesak napas dan demam, lalu dirujuk ke fasilitas kesehatan. Kondisinya kemudian memburuk hingga dinyatakan meninggal dunia di RSUD Abdul Aziz, Singkawang, Kalimantan Barat.

Kabar itu menyisakan duka. Tetapi lebih dari itu, ia meninggalkan pertanyaan yang tidak bisa dijawab hanya dengan kalimat “prosedur sudah dijalankan”. Pertanyaan itu sederhana, tetapi mendasar: mengapa calon manajer koperasi harus menjalani latihan dasar militer?

Koperasi bukan barak. Koperasi bukan ruang komando. Koperasi adalah ruang partisipasi, musyawarah, kepercayaan anggota, tata kelola keuangan, pelayanan warga, dan tanggung jawab kolektif. Maka ketika calon manajer koperasi dilatih dengan pendekatan militer, publik berhak bertanya: apakah metodenya relevan, proporsional, dan aman?

Pertanyaan itu semakin penting ketika muncul informasi bahwa 32 peserta latsarmil merupakan ibu hamil. Bahkan, satu orang dilaporkan harus dipulangkan karena melahirkan di tengah jalannya pendidikan. Kementerian Pertahanan kemudian menyampaikan bahwa seluruh peserta yang tengah mengandung dipulangkan dengan alasan kesehatan dan kemanusiaan. Dijelaskan pula bahwa sejak awal seleksi memang tidak ada ketentuan yang melarang ibu hamil mengikuti proses tersebut.

Di sinilah masalah reputasi mulai terbentuk. Dalam program publik, tidak adanya larangan administratif bukan berarti risiko tidak ada. Apalagi ketika program itu melibatkan perubahan ritme harian, tekanan fisik, kedisiplinan ketat, mobilisasi peserta, dan adaptasi pada lingkungan pelatihan yang berbeda dari kehidupan sipil.

Publik tidak hanya akan bertanya apakah peserta lolos seleksi. Publik akan bertanya apakah sistem seleksinya cukup peka terhadap risiko. Apakah skrining kesehatan memadai. Apakah kondisi khusus seperti kehamilan, penyakit bawaan, usia, daya tahan fisik, dan kerentanan peserta sudah benar-benar diperhitungkan. Dan yang lebih penting: apakah negara menempatkan keselamatan manusia di atas target program. Inilah titik ketika sebuah program baik bisa berubah menjadi krisis kepercayaan.

Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih membawa narasi besar tentang penguatan ekonomi desa, kemandirian masyarakat, dan pembangunan dari bawah. Narasi itu penting. Tetapi dalam komunikasi publik, narasi yang baik tidak cukup bila pelaksanaannya meninggalkan luka.

Reputasi tidak dibangun oleh niat baik semata. Reputasi dibangun oleh kesesuaian antara janji, cara kerja, dampak, dan tanggung jawab. Charles Fombrun menyebut reputasi sebagai persepsi kolektif pemangku kepentingan terhadap tindakan masa lalu dan harapan terhadap masa depan sebuah organisasi. Dalam bahasa sederhana, reputasi adalah tabungan kepercayaan. Ia bisa terkumpul lama, tetapi bisa terkuras cepat ketika publik merasa ada risiko yang tidak dijelaskan dengan jujur.

Digital News Report 2026 dari Reuters Institute memberi konteks penting untuk membaca situasi ini. Publik kini hidup dalam ekosistem informasi yang makin rumit. Kepercayaan terhadap berita menurun, sementara informasi semakin banyak diterima melalui media sosial, WhatsApp, video pendek, kreator, dan platform digital lain.

Artinya, ketika krisis terjadi, publik tidak selalu menunggu konferensi pers. Mereka membaca potongan kabar di grup percakapan, melihat unggahan media sosial, menyimak komentar warganet, lalu membentuk penilaian sendiri. Dalam ruang seperti ini, keterlambatan komunikasi bukan lagi sekadar keterlambatan teknis. Ia bisa berubah menjadi kekosongan narasi. Dan kekosongan narasi hampir selalu diisi oleh kecurigaan.

Situational Crisis Communication Theory dari W. Timothy Coombs menjelaskan bahwa semakin besar dampak krisis dan semakin tinggi persepsi tanggung jawab publik, semakin besar pula ancaman terhadap reputasi. Dalam kasus yang melibatkan korban jiwa, apalagi ketika jumlah korban bertambah dan muncul fakta lain seperti peserta hamil, publik tidak cukup hanya mendengar belasungkawa. Publik membutuhkan jawaban tentang evaluasi, perbaikan, perlindungan peserta lain, dan pendampingan keluarga korban. Belasungkawa memang penting. Tetapi belasungkawa bukan akhir dari komunikasi krisis.

Yang dibutuhkan publik adalah kejelasan: apa yang sedang diperiksa, siapa yang melakukan evaluasi, apakah pelatihan akan ditinjau ulang, bagaimana standar kesehatan diperbaiki, bagaimana keluarga korban didampingi, dan bagaimana kejadian serupa dicegah.

William Benoit melalui Image Repair Theory mengingatkan bahwa dalam krisis yang menyangkut manusia, strategi pemulihan citra yang paling kuat bukan menyangkal atau mengecilkan persoalan. Yang paling kuat adalah tindakan korektif, keterbukaan, empati, dan keberanian untuk mengakui tanggung jawab bila ditemukan kekeliruan.

Sebab dalam krisis kemanusiaan, publik tidak hanya membaca pernyataan resmi. Publik membaca rasa. Apakah negara terdengar hadir atau jauh? Apakah keluarga korban menjadi pusat perhatian atau sekadar catatan administratif? Apakah evaluasi dilakukan karena kesadaran moral atau karena tekanan publik? Apakah keselamatan peserta benar-benar menjadi pertimbangan utama atau hanya disebut setelah krisis membesar?

Di era kepercayaan publik yang rapuh, humas pemerintah tidak lagi cukup menjadi penyebar informasi. Humas pemerintah harus menjadi pengelola kepercayaan. Pengelola kepercayaan bukan hanya menyiapkan siaran pers. Ia harus membaca emosi publik, menjawab pertanyaan sulit, membuka data yang relevan, menjelaskan kebijakan dengan bahasa manusia, dan memastikan komunikasi negara tidak kehilangan empati.

Kasus ini seharusnya menjadi momentum untuk meninjau ulang bukan hanya pelaksanaan teknis, tetapi juga desain kebijakan. Jika kompetensi yang ingin dibangun adalah kemampuan mengelola koperasi, maka pelatihan semestinya lebih banyak menjawab kebutuhan koperasi: tata kelola, akuntansi sederhana, pelayanan anggota, kepemimpinan demokratis, manajemen risiko, pengawasan dana, mediasi konflik, dan pemberdayaan ekonomi lokal.

Disiplin penting. Bela negara penting. Integritas penting. Tetapi nilai-nilai itu tidak harus selalu dibentuk melalui pendekatan militer. Dalam konteks koperasi, bela negara bisa berarti menjaga amanah uang anggota, mencegah penyalahgunaan dana, memperkuat ekonomi warga, dan melayani masyarakat dengan jujur.

Koperasi tidak bekerja dengan logika komando. Koperasi bekerja dengan logika partisipasi. Karena itu, pertanyaan reputasinya bukan lagi bagaimana program ini tetap terlihat baik. Pertanyaan reputasinya adalah bagaimana negara menunjukkan bahwa nyawa manusia lebih penting daripada citra program.

Reputasi pemerintah tidak diselamatkan oleh pembelaan yang paling keras. Reputasi diselamatkan oleh tanggung jawab yang paling nyata. Dan dalam duka seperti ini, publik tidak sedang menunggu narasi yang sempurna. Publik menunggu bukti bahwa negara belajar, peduli, memperbaiki diri, dan tidak membiarkan nyawa manusia menjadi sekadar angka dalam laporan.

Penulis:

Emmy Kuswandari
Mahasiswi Pascasarjana Universitas Paramadina Jurusan Komunikasi Korporat

Tags: Emmy KuswandariKoperasi Merah PutihLatsarmil Koperasi Merah PutihPeserta Latsarmil Koperasi Merah PutihPeserta Latsarmil Koperasi Merah Putih Meninggal DuniaUniversitas Paramadina

Temukan berita terkini Wartatangerang.com di Google News. Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang*

Previous Post

Nobar FIFA World Cup 2026 Dilengkapi Pilihan Kuliner dan Games Seru di ARYADUTA Lippo Village

Related Posts

PP 28/2024 Dibaca Setengah
Opini

PP 28/2024 Dibaca Setengah

Oleh: Rizki
Kamis, 28 Mei 2026 / 11:16 WIB
Kampus atau Kantin Negara? Ketika Skripsi Kalah Sama Sendok Nasi
Opini

Kampus atau Kantin Negara? Ketika Skripsi Kalah Sama Sendok Nasi

Oleh: Rizki
Kamis, 7 Mei 2026 / 17:04 WIB
Saat Penjelasan Resmi Kalah Cepat dari Tafsir Publik
Opini

Saat Penjelasan Resmi Kalah Cepat dari Tafsir Publik

Oleh: Rizki
Kamis, 12 Februari 2026 / 21:24 WIB
KPK versus Kejaksaan: Pemberantasan Korupsi atau Perebutan Panggung?
Opini

KPK versus Kejaksaan: Pemberantasan Korupsi atau Perebutan Panggung?

Oleh: Rizki
Kamis, 25 Desember 2025 / 09:55 WIB
Informasi Lengkap tentang KLH dan Dinas Lingkungan Hidup di Indonesia
Opini

Informasi Lengkap tentang KLH dan Dinas Lingkungan Hidup di Indonesia

Oleh: wartatangerang.com
Kamis, 18 Desember 2025 / 02:53 WIB
Integritas Bukan Diwariskan Lewat Kata, Tetapi dengan Keteladanan
Opini

Integritas Bukan Diwariskan Lewat Kata, Tetapi dengan Keteladanan

Oleh: Rizki
Jumat, 12 Desember 2025 / 16:35 WIB

Discussion about this post

WARTA TERKINI

Nyawa dan Ujian Reputasi Negara dalam Latsarmil Koperasi Merah Putih

Nyawa dan Ujian Reputasi Negara dalam Latsarmil Koperasi Merah Putih

Senin, 29 Juni 2026 / 12:32 WIB
Nobar FIFA World Cup 2026 Dilengkapi Pilihan Kuliner dan Games Seru di ARYADUTA Lippo Village

Nobar FIFA World Cup 2026 Dilengkapi Pilihan Kuliner dan Games Seru di ARYADUTA Lippo Village

Senin, 29 Juni 2026 / 12:24 WIB
Atria Hotel Gading Serpong Ajak Keluarga Isi Liburan Sekolah dengan Lomba Dekorasi Kue

Atria Hotel Gading Serpong Ajak Keluarga Isi Liburan Sekolah dengan Lomba Dekorasi Kue

Senin, 29 Juni 2026 / 12:17 WIB
Liburan Sekolah Makin Seru, Vega Hotel Gading Serpong Hadirkan Make-up Class hingga Aqua Zumba

Liburan Sekolah Makin Seru, Vega Hotel Gading Serpong Hadirkan Make-up Class hingga Aqua Zumba

Senin, 29 Juni 2026 / 12:13 WIB
Perdana, Paramount Petals Serah Terima Kunci Klaster Lily

Perdana, Paramount Petals Serah Terima Kunci Klaster Lily

Senin, 29 Juni 2026 / 12:10 WIB
KH Said Aqil Siroj Doakan dan Restui Gus Hery Maju sebagai Ketum PBNU

KH Said Aqil Siroj Doakan dan Restui Gus Hery Maju sebagai Ketum PBNU

Sabtu, 27 Juni 2026 / 14:38 WIB
Terima Kunjungan Dandenpom Serang, Andra Soni Tegaskan Pemprov Banten Siap Perkuat Sinergi Lintas Sektor

Terima Kunjungan Dandenpom Serang, Andra Soni Tegaskan Pemprov Banten Siap Perkuat Sinergi Lintas Sektor

Jumat, 26 Juni 2026 / 22:42 WIB
Sambut Indonesia Emas 2045, Intan Nurul Hikmah Gaungkan Gerakan ‘Ananda Bersinar’

Sambut Indonesia Emas 2045, Intan Nurul Hikmah Gaungkan Gerakan ‘Ananda Bersinar’

Jumat, 26 Juni 2026 / 22:38 WIB
Facebook Twitter Instagram Youtube
Wartatangerang.com

  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman
  • Privacy Policy
  • Contact

© 2022 Wartatangerang.com | Situs Berita dan Informasi Seputar Tangerang

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Kabupaten Tangerang
  • Kota Tangerang
  • Kota Tangsel
  • Banten
  • Nasional
  • Indeks

© 2022 Wartatangerang.com | Situs Berita dan Informasi Seputar Tangerang