TANGSEL, WT – Upaya mengurangi sampah dari sumbernya terus didorong melalui berbagai inovasi pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat. Salah satunya dilakukan PT Indah Kiat Pulp & Paper (IKPP) Tangerang Mill, bagian dari APP Group, melalui pelatihan pembuatan eco enzyme bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) binaan di Kota Tangerang Selatan.
Pelatihan tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendorong penerapan prinsip keberlanjutan sekaligus mendukung pelaksanaan Program Kampung Iklim (ProKlim) dan program Komunitas Iklim yang dijalankan bersama Kementerian Lingkungan Hidup serta Dinas Lingkungan Hidup.
Dalam kegiatan tersebut, anggota KWT mendapatkan edukasi mengenai cara memanfaatkan limbah organik rumah tangga, terutama kulit buah, sebagai bahan dasar pembuatan eco enzyme. Selain membantu mengurangi limbah organik, pengolahan tersebut juga dinilai memiliki potensi untuk menghasilkan manfaat ekonomi apabila dikelola secara konsisten dan memenuhi standar yang dibutuhkan.
Dorong Masyarakat Kelola Sampah Secara Mandiri
Head of CSR PT IKPP Tangerang Mill, Lily Yulianingsih, mengatakan pelatihan tersebut ditujukan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola sampah domestik secara mandiri. “Start-nya adalah untuk menyukseskan program Komunitas Iklim, yang merupakan bagian dari program Kementerian Lingkungan Hidup bersama Dinas Lingkungan Hidup,” kata Lily.
Ia menjelaskan, program tersebut juga dikembangkan melalui kolaborasi dengan Be Cleanzy, produsen personal care yang memanfaatkan eco enzyme sebagai salah satu bahan dalam produk-produknya.
Kolaborasi tersebut membuka peluang agar eco enzyme yang dihasilkan masyarakat tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan tertentu, tetapi juga berpotensi masuk ke rantai nilai ekonomi. “Ini one step ahead, ada salah satu produsen personal care yaitu Be Cleanzy. Mereka mengajak CSR Indah Kiat untuk bekerja sama membuat personal care. Tapi hari ini kita mengajarkan eco enzyme-nya dari kulit buah,” jelasnya.
Eco Enzyme Berpeluang Dibeli Rp30 Ribu per Liter
Program pelatihan ini tidak sekadar berfokus pada aspek lingkungan. PT IKPP Tangerang Mill juga membuka peluang agar hasil produksi eco enzyme masyarakat memiliki nilai ekonomi. Eco enzyme yang dibuat peserta akan menjalani proses evaluasi selama sekitar tiga bulan. Hasil produksi akan dinilai berdasarkan standar yang telah ditentukan, termasuk memastikan tidak terjadi pertumbuhan jamur.
Apabila memenuhi persyaratan, eco enzyme tersebut berpotensi dibeli oleh Be Cleanzy dengan harga Rp30.000 per liter. “Rp30.000 per liter itu akan dibeli oleh mereka bilamana hasil panen eco enzyme-nya sesuai dengan standar mereka,” ujar Lily.
Skema tersebut diharapkan dapat menjadi insentif bagi masyarakat untuk lebih konsisten memilah dan mengolah limbah organik rumah tangga. Dengan demikian, sampah yang sebelumnya dibuang dapat diolah menjadi produk yang memiliki manfaat sekaligus peluang ekonomi.
Target Perluasan ke Bank Sampah se-Tangsel
PT IKPP Tangerang Mill juga berencana memperluas edukasi pembuatan eco enzyme agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat yang lebih luas.
Lily menyebut pihaknya mendapat arahan dari Dinas Lingkungan Hidup untuk mengembangkan pelatihan tersebut ke kelompok masyarakat lain, termasuk jaringan bank sampah di wilayah Tangerang Selatan. “Arahan dari DLH, coba undang lebih luas lagi untuk wilayah se-Tangsel. Nanti kita akan coba untuk gulirkan di bank sampah juga,” ungkapnya.
Perluasan program tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya pengurangan sampah organik dari sumbernya sekaligus meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan.
KWT Tangsel Sambut Positif Pelatihan Eco Enzyme
Ketua KWT Kota Tangerang Selatan, Agustin, mengapresiasi dukungan CSR PT IKPP Tangerang Mill dalam memberikan pelatihan kepada para anggota KWT. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan wawasan baru bagi masyarakat, khususnya mengenai pemanfaatan limbah organik menjadi eco enzyme. “Pelatihan pembuatan eco enzyme dari CSR PT Indah Kiat sangat luar biasa karena sangat membantu ibu-ibu KWT yang ada di Kota Tangerang Selatan untuk mengetahui lebih dalam lagi,” ujar Agustin.
Ia menjelaskan, peserta juga memperoleh pemahaman mengenai komposisi dasar dalam proses pembuatan eco enzyme dengan perbandingan 1:3:10.
Pengetahuan tersebut diharapkan dapat diterapkan oleh para anggota KWT di rumah masing-masing sekaligus disebarluaskan kepada masyarakat sekitar. “Dengan edukasi ini, ibu-ibu KWT bisa mencontohkan di lingkungannya untuk mengurangi sampah dan bahan kimia di rumah tangga,” tambahnya.
Agustin berharap kolaborasi antara PT IKPP Tangerang Mill, APP Group, pemerintah daerah, KWT, dan berbagai pihak terkait dapat terus diperkuat. Menurutnya, sinergi tersebut penting agar program pengelolaan sampah tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Melalui pelatihan eco enzyme ini, PT IKPP Tangerang Mill kembali menegaskan pendekatan pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat melalui edukasi, kolaborasi, inovasi, dan penciptaan nilai ekonomi. Pemanfaatan kulit buah sebagai bahan eco enzyme diharapkan menjadi salah satu langkah sederhana yang dapat diterapkan masyarakat untuk mengurangi sampah organik sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan. (RAY)
















Discussion about this post