JAKARTA, WT – Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa bersama Alinea, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, dan Danone Indonesia menggelar diskusi kesehatan mental bertajuk “Tribute to Romo Mudji” pada Selasa (10/2/2026) di Lantai 24 Gedung Perpustakaan Nasional RI, Jakarta Pusat.
Kegiatan ini menjadi ruang penghormatan atas pemikiran dan keteladanan Romo Mudji Sutrisno, tokoh humanis yang dikenal konsisten memperjuangkan martabat kemanusiaan, keberpihakan terhadap kelompok rentan, serta pentingnya kesehatan mental dalam kehidupan sosial.
Diskusi menghadirkan Editor Harian Kompas Adhitya Ramadhan, Staf Khusus Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Romo Haryatmoko, serta Dewan Penasihat Organisasi Penulis Alinea Debra Yatim. Acara dipandu oleh Dr. dr. Ray W. Basrowi, MKK., FRSPH, dengan Reno Fenady sebagai host.
Adhitya Ramadhan menilai gagasan Romo Mudji tetap relevan bagi praktik jurnalistik saat ini. Menurutnya, media tidak hanya bertugas menyampaikan fakta, tetapi juga merawat empati publik.
“Jurnalisme harus membantu masyarakat memahami sesama secara lebih manusiawi, bukan sekadar mempercepat arus informasi,” ujarnya.
Romo Haryatmoko menekankan dimensi etika dan kebangsaan dalam pemikiran Romo Mudji, terutama dalam konteks kesehatan mental. Ia menyebut keberpihakan pada martabat manusia sebagai inti gagasan tersebut. “Dalam isu kesehatan mental, itu berarti menghadirkan ruang sosial yang aman, adil, dan bebas stigma bagi setiap individu,” tuturnya.
Sementara itu, Debra Yatim memandang pendekatan humanis Romo Mudji juga tercermin dalam dunia literasi dan kebudayaan. Refleksi, sastra, serta ekspresi budaya dinilai dapat menjadi bagian dari proses pemulihan batin. “Kesehatan mental bukan sekadar persoalan medis, tetapi pengalaman kemanusiaan yang perlu didengar dan dihargai,” katanya.
Para narasumber sepakat bahwa tantangan kesehatan mental di tengah perubahan sosial dan perkembangan digitalisasi, termasuk kecerdasan buatan (AI), membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Media, pendidikan, komunitas, hingga dunia usaha dinilai perlu membangun ekosistem yang empatik dan suportif.
Dalam berbagai kesempatan, Romo Mudji juga menekankan pentingnya kesehatan secara holistik—fisik dan jiwa. Ia pernah mengkritisi hilangnya kebiasaan menulis buku harian di sekolah sebagai sarana refleksi diri dan pengelolaan trauma. Menurutnya, budaya lisan, tulisan, hingga digital harus diiringi kesadaran berbahasa sebagai proses pembentukan manusia.
Diskusi yang terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya ini dihadiri akademisi, pegiat kesehatan mental, komunitas literasi, serta masyarakat luas. Antusiasme peserta menunjukkan tingginya perhatian publik terhadap isu kesehatan jiwa sekaligus relevansi nilai kemanusiaan yang diwariskan Romo Mudji di era modern. (RIZ)























Discussion about this post