CILEGON, WT – Kadin Digital Institute Provinsi Banten menegaskan pentingnya penguatan keamanan siber (cyber security) sebagai fondasi keberlanjutan transformasi digital di sektor industri manufaktur. Komitmen tersebut disampaikan dalam forum “Securing Operational Continuity: Cyber Threat Mitigation & Incident Response Simulation” yang digelar di Hotel Forbis, Kota Cilegon, Kamis (30/7/2026).
Ketua Kadin Digital Institute Provinsi Banten sekaligus Ketua APTIKNAS DPD Banten, Ir. Nazir Danuarta Sudirman, mengatakan transformasi digital yang berlangsung cepat menuntut dunia industri untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa mengabaikan aspek keamanan.
“Kadin Digital Institute hadir sebagai forum yang mempertemukan kebutuhan industri manufaktur dengan inovasi teknologi. Kami ingin memastikan bahwa perkembangan bisnis dan teknologi dapat berjalan beriringan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang aman, efisien, dan berkelanjutan, khususnya di Provinsi Banten dan Kota Cilegon,” ujarnya saat membuka acara.
Menurut Nazir, integrasi teknologi digital ke dalam proses produksi merupakan kebutuhan yang tidak bisa dihindari apabila industri ingin tetap kompetitif di pasar global. Namun, modernisasi tersebut juga menghadirkan tantangan baru berupa meningkatnya ancaman terhadap sistem Operational Technology (OT) yang mengendalikan operasional pabrik.
Ia menjelaskan, ketika sistem produksi telah terhubung secara digital, ancaman serangan siber tidak lagi hanya menyasar sistem informasi perusahaan, tetapi juga dapat mengganggu jalannya proses produksi.
“Tantangan terbesar bagi manajemen adalah bagaimana membangun sistem pertahanan siber yang kuat tanpa mengorbankan stabilitas operasional maupun target produksi perusahaan,” katanya.
Nazir menambahkan, Kadin Digital Institute dibentuk sebagai katalisator untuk mempercepat adopsi teknologi digital di kalangan dunia usaha. Selama ini, organisasi tersebut aktif mendampingi industri manufaktur dalam meningkatkan efisiensi pengelolaan data, otomasi operasional, hingga penerapan teknologi digital lainnya.
Sebagai bentuk komitmen terhadap peningkatan kapasitas sumber daya manusia, Kadin Digital Institute juga telah meresmikan Training Center yang diproyeksikan menjadi pusat pengembangan kompetensi digital di Banten.
Fasilitas tersebut dirancang sebagai laboratorium praktik sekaligus ruang inkubasi bagi pelaku industri untuk mempelajari dan mengimplementasikan teknologi terkini, seperti Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), hingga keamanan siber yang dapat diterapkan secara langsung pada berbagai sektor industri.
“Hadirnya Training Center ini menjadi bagian dari visi besar kami untuk mempercepat transformasi digital di seluruh sektor industri di Banten,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Nazir juga mengapresiasi kehadiran Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang dinilai memiliki peran strategis dalam mendampingi dunia usaha membangun ketahanan siber nasional.
Menurutnya, keterlibatan BSSN bukan hanya sebagai regulator, tetapi juga mitra yang dapat membantu meningkatkan kesiapan industri menghadapi berbagai ancaman digital.
Selain menghadirkan BSSN, forum tersebut turut melibatkan Nozomi Networks, perusahaan yang memiliki keahlian dalam pengamanan sistem Operational Technology (OT). Kehadiran perusahaan tersebut diharapkan dapat memberikan wawasan mengenai strategi perlindungan sistem produksi agar tetap aman tanpa mengganggu aktivitas operasional.
Acara juga diisi dengan simulasi respons insiden siber yang melibatkan para peserta untuk memahami proses pengambilan keputusan strategis saat menghadapi serangan digital terhadap sistem industri.
Nazir berharap forum tersebut dapat memperkuat kolaborasi antara pemerintah, penyedia teknologi, dan pelaku industri dalam membangun ekosistem digital yang lebih aman.
“Momentum ini menjadi kesempatan penting untuk menyamakan persepsi antara pemerintah dan dunia usaha dalam menjaga keberlangsungan serta stabilitas industri. Dengan kolaborasi yang kuat, transformasi digital dapat berjalan optimal sekaligus terlindungi dari berbagai risiko ancaman siber,” pungkasnya. (RED)















Discussion about this post