TANGERANG, WT – Tiga siswa sekolah menengah atas dari Sinarmas World Academy (SWA) berhasil mengembangkan LUMA, sebuah perangkat headset berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dirancang untuk membantu individu yang kehilangan kemampuan berbicara akibat ALS, stroke, maupun gangguan neuromuskular lainnya.
Inovasi ini dikembangkan oleh tim SWA RoboKnights yang terdiri dari Audric Tsai, Zhenxuan, dan Yik Yan. Karya mereka mendapat pengakuan internasional dalam ajang World Robot Olympiad (WRO) International Final 2025 di Singapura. Dari kompetisi yang diikuti lebih dari 500 tim dari 91 negara, tim SWA RoboKnights sukses menyabet tiga Gold Awards sekaligus Start-Up Award pada kategori Future Innovators Senior.
Secara teknis, LUMA bekerja dengan menerjemahkan intensi pengguna menjadi suara verbal. Perangkat ini membaca sinyal electroencephalogram (EEG) dan pola kedipan mata, yang kemudian diubah menjadi kode Morse. Informasi tersebut diproses melalui model bahasa berbasis AI yang dilengkapi sistem deteksi objek secara real-time.
Hasil terjemahan lalu ditampilkan sebagai saran frasa kontekstual melalui kacamata augmented reality (AR) sebelum akhirnya disuarakan oleh perangkat. Teknologi ini memungkinkan pengguna menyampaikan kebutuhan, emosi, hingga pemikiran secara lebih natural.
Keunggulan lain dari LUMA terletak pada efisiensi biaya produksi. Headset ini dirancang dengan estimasi biaya sekitar Rp10 juta, jauh lebih terjangkau dibandingkan sistem brain-computer interface dan eye-tracking yang beredar di pasaran dengan harga mencapai Rp150 juta hingga Rp210 juta.
Usai kompetisi, tim SWA RoboKnights melanjutkan pengembangan dengan menjalin kolaborasi bersama rumah sakit dan pusat layanan kesehatan. Tahap berikutnya difokuskan pada uji coba langsung kepada pasien, guna memvalidasi performa LUMA dalam lingkungan medis.
General Manager Sinarmas World Academy, Deddy Djaja Ria, menyatakan pencapaian ini menjadi bukti kekuatan pendidikan berbasis tujuan dan kreativitas.
“Ketika anak muda diberi ruang untuk berinovasi dan berorientasi pada solusi nyata, mereka mampu menciptakan perubahan yang berdampak luas. Prestasi ini mencerminkan komitmen sekolah dalam menggabungkan keunggulan teknologi dengan nilai tanggung jawab sosial,” ujarnya.
Keberhasilan LUMA menegaskan pelajar Indonesia mampu bersaing di tingkat global. Lebih dari sekadar prestasi kompetisi, inovasi ini menunjukkan potensi besar generasi muda dalam menghadirkan solusi teknologi yang inklusif, berkelanjutan, dan berdampak sosial tinggi. ***
















Discussion about this post