• Tentang Kami
  • Contact
Selasa, 21 April 2026
Wartatangerang.com
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Kabupaten Tangerang
  • Kota Tangerang
  • Kota Tangsel
  • Banten
  • Nasional
  • Indeks
  • Home
  • Kabupaten Tangerang
  • Kota Tangerang
  • Kota Tangsel
  • Banten
  • Nasional
  • Indeks
No Result
View All Result
Warta Tangerang
No Result
View All Result
Home Nasional

Grooming Sebagai Proses Komunikasi yang Tak Terbaca

Child Grooming, Narasi Penyintas, dan Kegagalan Literasi Relasional

Oleh: Rizki
Kamis, 15 Januari 2026 / 13:16 WIB
Share on FacebookShare on Twitter

JAKARTA, WT – Grooming kerap dibayangkan sebagai kejahatan yang mudah dikenali: ada pelaku, ada korban, lalu terjadi pelanggaran. Dalam konteks kekerasan seksual terhadap anak dan remaja, cara pandang ini membuat publik cenderung menunggu tanda bahaya yang jelas seperti paksaan, ancaman, atau kekerasan terbuka.

Cara pandang ini membuat publik cenderung menunggu tanda bahaya yang jelas seperti paksaan, ancaman, atau kekerasan terbuka. Masalahnya, dalam banyak kasus, grooming justru bekerja tanpa semua itu. Ia hadir sebagai proses komunikasi yang perlahan, konsisten, dan tampak wajar, sehingga sering kali tidak terbaca sebagai bahaya.

READ ALSO

LSAK Kritik Pelaporan Jubir KPK, Tegaskan Faizal Assegaf Bukan Saksi Ahli

JMM Dukung Pengetatan Imigrasi Cegah Jamaah Haji-Umrah Non-Prosedural

Grooming tidak selalu datang dalam bentuk tekanan atau kekerasan. Ia sering muncul melalui perhatian, dukungan emosional, dan relasi yang terasa aman. Bahasa yang digunakan adalah bahasa kepedulian: mendengarkan, memahami, memberi ruang, dan memvalidasi. Justru karena itulah grooming sulit dikenali pada tahap awal. Tidak ada satu peristiwa besar yang memicu alarm, hanya rangkaian interaksi kecil yang secara perlahan menggeser batas relasi.

Pengalaman semacam ini tergambar dalam Broken Strings, yang ditulis Aurelie Moeremans. Buku ini menunjukkan bagaimana sebuah relasi yang pada awalnya tampak normal dan suportif dapat berubah menjadi manipulatif tanpa disadari. Yang penting dicatat, cerita ini tidak berdiri sendiri. Setelah buku tersebut beredar, muncul banyak pengakuan dari orang-orang lain yang menyadari bahwa mereka pernah mengalami pola relasi serupa.

Ketika Cerita Membuka Pola

Pengakuan-pengakuan itu muncul di berbagai ruang: media sosial, diskusi publik, hingga konten edukasi. Fenomena ini memperlihatkan bahwa grooming bukan kasus yang terisolasi, melainkan pola komunikasi yang berulang. Ketika satu pengalaman dinarasikan dengan jujur, pengalaman lain menemukan rujukan untuk dipahami. Proses ini mengubah grooming dari pengalaman individual menjadi persoalan sosial yang dapat dibaca bersama.

Dari sudut pandang komunikasi, di sinilah letak persoalan utama. Grooming bekerja bukan melalui satu pesan atau satu medium, melainkan melalui akumulasi komunikasi lintas konteks. Percakapan langsung, pesan pribadi, simbol perhatian, hingga pengakuan di ruang publik membentuk satu rangkaian makna yang koheren. Setiap interaksi tampak tidak bermasalah jika dilihat terpisah, tetapi ketika dirangkai, ia membentuk pola manipulatif yang mengikat.

Karena proses ini berlangsung perlahan dan dinormalisasi, dampaknya terhadap kesehatan mental korban sering kali muncul tertunda. Banyak korban baru menyadari bahwa relasi yang mereka jalani bersifat manipulatif setelah relasi itu berakhir atau ketika mereka membaca pengalaman orang lain. Yang tersisa bukan hanya rasa sakit, tetapi juga kebingungan tentang bagaimana sesuatu yang terasa aman justru melukai.

Kebingungan ini kerap berkembang menjadi kecemasan berkepanjangan, rasa bersalah, dan kesulitan membangun kepercayaan. Luka tidak selalu hadir sebagai trauma instan, melainkan sebagai gangguan makna. Korban mempertanyakan penilaian diri sendiri, batas relasi yang sehat, dan kemampuan membaca niat orang lain. Semua itu berakar pada komunikasi yang sebelumnya diterima sebagai wajar.

Pola Komunikasi yang Menormalisasi Manipulasi

Ketika cerita-cerita penyintas beredar lintas medium, terjadi perubahan penting dalam cara publik memahami grooming. Fokus bergeser dari pertanyaan “apa yang terjadi” menjadi “bagaimana proses itu berlangsung”. Grooming mulai dipahami sebagai pola komunikasi yang memanfaatkan normalitas, bukan sebagai peristiwa ekstrem yang mudah dikenali. Pemahaman ini penting karena pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan daftar tanda bahaya yang kaku.

Selama ini, banyak upaya pencegahan grooming disampaikan melalui pesan normatif tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Pendekatan ini penting, tetapi sering kali tidak cukup untuk menghadapi grooming tahap awal yang justru beroperasi di wilayah abu-abu. Relasi yang tampak profesional, suportif, atau produktif kerap luput dari kewaspadaan karena tidak melanggar aturan secara eksplisit.

Pendekatan berbasis komunikasi menawarkan jalan lain. Alih-alih hanya mengajarkan larangan, publik perlu diajak membaca dinamika relasi: bagaimana perhatian diberikan, bagaimana batas dinegosiasikan, dan bagaimana rasa tidak nyaman muncul secara perlahan. Literasi semacam ini membantu orang mengenali pola, bukan sekadar kejadian.

Ketika Negara Datang Terlambat

Dalam konteks Indonesia, pendekatan ini menjadi semakin relevan. Budaya hierarkis dan relasi kuasa berbasis usia, status, atau profesi kerap membuat komunikasi manipulatif sulit dipertanyakan. Banyak pengalaman grooming tidak pernah dibicarakan karena dianggap berlebihan atau tidak pantas untuk dipersoalkan. Ketika narasi penyintas hadir di ruang publik, ia membuka percakapan yang sebelumnya tertutup.

Grooming sebagai proses komunikasi yang tak terbaca memperlihatkan bahwa persoalan ini tidak bisa terus diperlakukan sebagai kegagalan individu semata. Ketika relasi manipulatif dapat tumbuh dan bertahan dalam ruang sosial yang dianggap normal, aman, bahkan produktif, maka yang bermasalah bukan hanya pelaku dan korban, tetapi juga cara masyarakat, institusi, dan negara memahami komunikasi itu sendiri.

Masalahnya, hingga kini belum terdapat kebijakan negara yang secara khusus memandang grooming sebagai proses komunikasi relasional yang berlangsung bertahap. Kerangka hukum dan kebijakan perlindungan anak masih lebih berfokus pada peristiwa pelanggaran sebagai hasil akhir, bukan pada proses komunikasi yang mendahuluinya. Akibatnya, negara cenderung hadir setelah kerusakan terjadi, sementara fase-fase awal grooming, yang justru paling sulit dikenali, dibiarkan berlangsung tanpa intervensi yang memadai.

Tanpa pengakuan kebijakan terhadap grooming sebagai proses komunikasi sosial, praktik manipulatif akan terus beradaptasi di ruang-ruang abu-abu yang tidak terjangkau hukum formal, tenang, sistemik, dan kembali tak terbaca. (*)

Penulis:
Emmy Kuswandari
Mahasiswa S2 Ilmu Komunikasi, Universitas Paramadina

Tags: Child groomingEmmy KuswandariKekerasan Seksualliterasi relasionalUniversitas Paramadina

Temukan berita terkini Wartatangerang.com di Google News. Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang*

Previous Post

Lawan Polusi Udara, AZKO Pondok Cabe Tawarkan Cashback Air Purifier hingga Rp100 Ribu

Next Post

Street Style Modern, All New Honda Vario 125 Resmi Mengaspal 

Related Posts

KPK Didesak Tuntaskan Kasus TPPU Syahrul Yasin Limpo
Nasional

LSAK Kritik Pelaporan Jubir KPK, Tegaskan Faizal Assegaf Bukan Saksi Ahli

Oleh: wartatangerang.com
Jumat, 17 April 2026 / 20:22 WIB
Pembentukan Pansus DPR RI Terkait Haji 2024 Dinilai Kental dengan Kepentingan Politik
Nasional

JMM Dukung Pengetatan Imigrasi Cegah Jamaah Haji-Umrah Non-Prosedural

Oleh: wartatangerang.com
Kamis, 16 April 2026 / 10:05 WIB
Target Beroperasi 2026, Sinar Mas Land Rampungkan Struktur Medical Suites di KEK Banten
Nasional

Target Beroperasi 2026, Sinar Mas Land Rampungkan Struktur Medical Suites di KEK Banten

Oleh: Rizki
Minggu, 12 April 2026 / 12:27 WIB
PT Indah Kiat Tangerang Tembus PROPER Hijau, Unggul dalam Program ESG
Nasional

PT Indah Kiat Tangerang Tembus PROPER Hijau, Unggul dalam Program ESG

Oleh: Rizki
Rabu, 8 April 2026 / 13:39 WIB
Universitas Kristen Petra Perkuat Industri Pangan Lewat Food Expert Talk 2026
Nasional

Universitas Kristen Petra Perkuat Industri Pangan Lewat Food Expert Talk 2026

Oleh: Rizki
Senin, 6 April 2026 / 21:55 WIB
Atasi Krisis Air Bersih Pascabencana, Pipa HDPE Lebih Unggul untuk Jaringan Air di Wilayah Rawan
Nasional

Atasi Krisis Air Bersih Pascabencana, Pipa HDPE Lebih Unggul untuk Jaringan Air di Wilayah Rawan

Oleh: Rizki
Senin, 6 April 2026 / 08:34 WIB
Next Post
Street Style Modern, All New Honda Vario 125 Resmi Mengaspal 

Street Style Modern, All New Honda Vario 125 Resmi Mengaspal 

Discussion about this post












WARTA TERKINI

Dewa United Banten Gagal Menang, Persib Bangkit dan Paksa Skor Imbang 2-2

Dewa United Banten Gagal Menang, Persib Bangkit dan Paksa Skor Imbang 2-2

Senin, 20 April 2026 / 23:22 WIB
Pempek Kenari Buka Cabang Baru di Gading Serpong

Pempek Kenari Buka Cabang Baru di Gading Serpong

Senin, 20 April 2026 / 21:27 WIB
Berlokasi di Ruko Time Square Paramount Gading Serpong, BMI – Vivo Resmikan Outlet Premium Pertama di Banten

Berlokasi di Ruko Time Square Paramount Gading Serpong, BMI – Vivo Resmikan Outlet Premium Pertama di Banten

Senin, 20 April 2026 / 20:27 WIB
Lawan Stunting, Alfamidi Salurkan 3.600 Butir Telur bagi Anak di Tangerang Selatan

Lawan Stunting, Alfamidi Salurkan 3.600 Butir Telur bagi Anak di Tangerang Selatan

Senin, 20 April 2026 / 09:52 WIB
Persik Kediri Tundukkan Persita 1-0 di Stadion Brawijaya, Gol Toral Jadi Penentu

Persik Kediri Tundukkan Persita 1-0 di Stadion Brawijaya, Gol Toral Jadi Penentu

Minggu, 19 April 2026 / 17:38 WIB
Slamet Supriyanto Kembali Pimpin IHKA Banten, Targetkan Penguatan Kompetensi Housekeeping

Slamet Supriyanto Kembali Pimpin IHKA Banten, Targetkan Penguatan Kompetensi Housekeeping

Sabtu, 18 April 2026 / 23:50 WIB
BPSK WKP 1 Banten Selesaikan Kasus Masputing Residence, 10 Warga Dapat Kepastian Hak Tanah

BPSK WKP 1 Banten Selesaikan Kasus Masputing Residence, 10 Warga Dapat Kepastian Hak Tanah

Sabtu, 18 April 2026 / 22:23 WIB
Jasa Anti Rayap Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang & Kota Tangerang Terpercaya dan Profesional

Jasa Anti Rayap Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang & Kota Tangerang Terpercaya dan Profesional

Sabtu, 18 April 2026 / 10:51 WIB
Facebook Twitter Instagram Youtube
Wartatangerang.com

  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman
  • Privacy Policy
  • Contact

© 2022 Wartatangerang.com | Situs Berita dan Informasi Seputar Tangerang

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Kabupaten Tangerang
  • Kota Tangerang
  • Kota Tangsel
  • Banten
  • Nasional
  • Indeks

© 2022 Wartatangerang.com | Situs Berita dan Informasi Seputar Tangerang