TANGSEL, WT – Hormon testosteron selama ini lebih dikenal sebagai hormon yang berkaitan dengan kesuburan dan fungsi seksual pria. Namun, menurut Dokter Spesialis Andrologi di Eka Hospital BSD dan Eka Hospital Grand Family, dr. Christian Christoper Sunnu, Sp.And, testosteron memiliki peran yang jauh lebih luas karena turut memengaruhi kesehatan fisik, mental, hingga produktivitas seseorang.
“Sebagian besar pria baru memeriksakan kadar testosteron ketika menghadapi masalah kesuburan. Padahal hormon ini juga berperan dalam menjaga energi, suasana hati, kemampuan berpikir, hingga kualitas hidup secara keseluruhan,” ujar dr. Christian.
Ia menjelaskan bahwa testosteron merupakan hormon utama yang berperan dalam pembentukan karakteristik pria, seperti pertumbuhan massa otot, rambut wajah, perkembangan organ reproduksi, serta produksi sel sperma yang menentukan tingkat kesuburan.
Testosteron Berpengaruh pada Aktivitas Sehari-hari
Menurut dr. Christian, kadar testosteron yang optimal membantu pria menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih produktif.
“Testosteron tidak hanya memengaruhi fungsi reproduksi, tetapi juga mendukung stamina, konsentrasi, motivasi, serta performa kerja. Ketika kadarnya menurun, dampaknya bisa dirasakan di berbagai aspek kehidupan,” jelasnya.
Ia mengungkapkan terdapat sejumlah fungsi penting testosteron selain menjaga kesuburan, di antaranya:
Meningkatkan gairah seksual dan membantu menjaga kualitas produksi sperma.
Menjaga stamina dan tingkat energi sehingga tubuh tidak mudah lelah.
Membantu mengatur suasana hati agar lebih stabil.
Mendukung fungsi otak, termasuk daya ingat, kemampuan berpikir, dan konsentrasi.
Menunjang produktivitas kerja melalui kombinasi energi, fokus, dan kondisi psikologis yang baik.
Meningkatkan rasa percaya diri dan mendorong gaya hidup aktif, termasuk rutin berolahraga.
Testosteron Rendah Bisa Berdampak pada Kesehatan
dr. Christian menjelaskan bahwa kadar testosteron yang rendah lebih sering menjadi perhatian dibandingkan kadar yang tinggi. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan, termasuk sindrom metabolik.
“Kadar testosteron yang rendah sering dikaitkan dengan kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, obesitas, hingga peningkatan kadar gula darah. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke,” katanya.
Selain berdampak pada kesehatan fisik, testosteron rendah juga dapat memengaruhi kondisi psikologis serta hubungan sosial seseorang.
Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain perubahan suasana hati (mood swing), mudah stres atau depresi, gairah seksual menurun, disfungsi ereksi, berkurangnya massa otot, meningkatnya lemak tubuh, sulit berkonsentrasi, mudah lupa, kelelahan berkepanjangan, penurunan performa kerja, rambut menipis, kepadatan tulang menurun, hingga gangguan tidur.
“Keluhan seperti cepat lelah, sulit fokus, atau penurunan produktivitas sering kali dianggap akibat pekerjaan yang padat. Padahal, dalam beberapa kasus, hal tersebut dapat berkaitan dengan kadar testosteron yang rendah. Karena itu, pemeriksaan menyeluruh sangat diperlukan agar penyebabnya dapat diketahui secara pasti,” tutur dr. Christian.
Penanganan Harus Berdasarkan Pemeriksaan Dokter
dr. Christian menegaskan bahwa terapi testosteron tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Penanganan harus diawali dengan pemeriksaan laboratorium dan evaluasi medis oleh dokter.
“Jika hasil pemeriksaan menunjukkan kadar testosteron memang rendah dan menimbulkan gejala klinis, dokter akan menentukan terapi yang paling sesuai dengan kondisi pasien. Tidak semua pria memerlukan terapi penggantian hormon,” ujarnya.
Salah satu pilihan terapi adalah Testosterone Replacement Therapy (TRT) yang diberikan dalam berbagai bentuk, mulai dari suntikan, gel atau krim, skin patch, tablet, hingga pelet yang ditanam di bawah kulit. Pemilihan metode akan disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi kesehatan masing-masing pasien.
Selain itu, pada kondisi tertentu dokter juga dapat memberikan terapi hormonal lain, seperti Clomiphene Citrate, yang diketahui dapat membantu meningkatkan produksi testosteron dan sperma pada sebagian pasien.
Tak hanya terapi medis, perubahan gaya hidup juga menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan hormon testosteron.
Gaya Hidup Sehat Membantu Menjaga Testosteron
dr. Christian menyarankan pria menerapkan pola hidup sehat sebagai langkah pencegahan sekaligus pendukung terapi.
“Olahraga secara rutin, terutama latihan beban (resistance training), mengonsumsi makanan bergizi dengan protein rendah lemak, menjaga berat badan ideal, tidur selama enam hingga delapan jam setiap malam, mengelola stres, serta membatasi konsumsi alkohol merupakan langkah sederhana yang dapat membantu menjaga kadar testosteron tetap optimal,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa beberapa vitamin dan mineral, seperti vitamin D, zinc, magnesium, serta suplemen tertentu, dapat direkomendasikan dokter sebagai pendukung terapi apabila memang dibutuhkan berdasarkan hasil pemeriksaan.
“Yang terpenting, jangan langsung mengonsumsi suplemen atau terapi hormon tanpa konsultasi. Pemeriksaan yang tepat akan membantu menentukan penyebab keluhan dan terapi yang paling aman serta efektif,” pungkas dr. Christian. (RIZ)
















Discussion about this post