Menuju Indonesia Emas 2045, Marinus Gea: Kekuatan Bangsa Terletak pada Karakter Manusianya
TANGERANG, WT – Anggota Komisi XIII DPR RI, Marinus Gea, menekankan bahwa penguatan karakter bangsa melalui aksi nyata jauh lebih penting daripada sekadar menghafal teks ideologi. Hal tersebut disampaikannya dalam agenda Penguatan Relawan Kebajikan yang diinisiasi oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Kampus Universitas Insan Pembangunan Indonesia (UNIPI), Tangerang, Kamis (2/7/2026).
Dalam pemaparannya, Marinus menyebut Pancasila sebagai titik temu, rumah bersama, sekaligus fondasi luhur yang menyatukan keberagaman bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, implementasi nilai-nilainya harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.
“Pancasila itu harus dihidupi dan diwujudkan dalam tindakan nyata sehari-hari—mulai dari cara memimpin, melayani, hingga memperlakukan sesama. Inilah esensi dari Kebajikan Pancasila,” ujar Marinus.
Legislator senayan ini juga menggarisbawahi bahwa tolok ukur keberhasilan penanaman ideologi ini bukan dilihat dari seberapa hafal masyarakat terhadap kelima sila, melainkan seberapa besar nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan berbangsa.
Pada kesempatan yang sama, Marinus turut mengulas pentingnya Sosialisasi 4 Pilar MPR RI (Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika). Namun, ia tidak menampik bahwa tantangan terbesar bangsa saat ini adalah minimnya keteladanan di tengah dinamika sosial yang kompleks.
“Persoalan kita hari ini bukan kurangnya pengetahuan, melainkan krisis keteladanan dan penggerak kebajikan. Kita masih melihat adanya riak intoleransi, korupsi, ketidakadilan, hingga aksi saling serang di ruang digital,” ungkapnya.
Berangkat dari tantangan tersebut, kehadiran Relawan Kebajikan Pancasila diharapkan mampu mengubah paradigma sosial—dari yang semula hanya fokus pada transfer materi pengajaran, beralih menjadi gerakan transformasi karakter. Marinus memastikan bahwa relawan ini murni sebagai gerakan moral kebangsaan.
“Ini bukan organisasi untuk kepentingan politik elektoral atau kelompok tertentu. Ini adalah gerakan warga negara yang siap menjadi contoh nyata,” tegasnya.
Menutup arahannya menjelang visi Indonesia Emas 2045, Marinus mengingatkan bahwa kemajuan sebuah negara tidak melulu diukur dari kemegahan infrastruktur atau kekayaan alam, melainkan dari integritas manusianya.
“Indonesia saat ini tidak butuh lebih banyak orang yang hanya pintar bicara kebaikan atau menghafal Pancasila, melainkan mereka yang mau bergerak dan menghidupinya langsung di masyarakat,” pungkas Marinus. (RIK)
















Discussion about this post