JAKARTA, WT – Menginjak tahun ketiga perjalanannya di industri kuliner ibu kota, restoran SU MA terus memperkuat posisinya di lanskap fine dining Jakarta. Berbeda dari tren yang mengejar sensasi instan, destinasi kuliner ini konsisten mengusung pendekatan berkecepatan terukur, presisi tinggi, serta perhatian mendalam pada setiap detail pengalaman para tamu.
Berakar kuat pada kekayaan tradisi kuliner Asia Timur—khususnya Tiongkok dan Korea—SU MA memandang tiap hidangan bukan sekadar makanan, melainkan medium penyampai rasa hangat, perhatian, dan keterikatan emosional yang diwariskan secara turun-temurun.
Filosofi tersebut kini dimanifestasikan melalui menu musiman terbarunya, Volume 6: Passage. Mengangkat tema transformasi dan eksplorasi perjalanan, setiap volume yang dirilis menjadi babak baru yang merefleksikan visi serta dedikasi tim di balik dapur SU MA.
Sinergi Dua Talenta Kuliner Internasional
Arah baru SU MA digerakkan oleh kolaborasi Executive Chef Brendon Chen dan Co-Executive Chef Ryan Kim. Meski berangkat dari latar belakang budaya dan pengalaman yang berbeda, keduanya memiliki kesamaan pandangan dalam membentuk identitas kuliner kontemporer Asia Timur.
Chef Ryan Kim, yang telah mengawal perjalanan SU MA sejak awal, membawa keahlian mendalam di bidang pastry serta pemahaman kuat atas cita rasa Asia Timur. Sementara itu, bergabungnya Chef Brendon Chen pada awal tahun ini menjadi poin krusial yang menyempurnakan harmoni antara tradisi dan teknik modern.
Tumbuh dalam keluarga Tionghoa-Malaysia, Chef Brendon mengasah kepiawaian kulinernya dari kenangan masa kecil saat memperhatikan ibu dan neneknya memasak. Setelah menyelesaikan pendidikan di Le Cordon Bleu London, ia mengukir rekam jejak di berbagai restoran ternama dunia, termasuk restoran berlabel Michelin Star seperti Restaurant du Vieux Pont, MUME, Restaurant Studio, Nadodi, hingga mendirikan Playte di Kuala Lumpur yang masuk dalam panduan Michelin Guide.
Bagi Chef Brendon, teknik modern hadir bukan untuk menggantikan akar tradisi, melainkan memperkayanya. “Di SU MA, kami tidak berusaha mereplikasi tradisi persis seperti dahulu, namun juga tidak ingin meninggalkannya. Bagi kami, tradisi adalah sesuatu yang hidup dan dapat terus berkembang tanpa kehilangan asalnya. Melalui proses fermentasi, rotasi bahan musiman, dan penerapan teknik yang terukur, kami ingin menyajikan pengalaman yang terasa akrab sekaligus memberi perspektif baru,” ungkap Chef Brendon Chen.
Pendekatan Personal dan Kenangan yang Berkesan
Melengkapi dinamika dapur SU MA, Co-Executive Chef Ryan Kim mengawali kariernya di Korea Selatan sebelum memperdalam ilmu culinary dan pastry di Le Cordon Bleu Australia. Pengalaman kerjanya mencakup restoran prestisius Australia seperti Quay dan Bennelong, sebelum akhirnya mendirikan penganan dessert Fragments di Jakarta pada 2020.
“Bagi saya, pengalaman bersantap adalah tentang menciptakan momen yang tetap diingat bahkan setelah hidangan terakhir disajikan. Baik melalui dessert maupun keseluruhan alur pengalaman yang kami hadirkan, saya berharap setiap tamu dapat merasakan kehangatan, perhatian, dan koneksi selama berada di SU MA,” tutur Chef Ryan Kim.
Pengalaman Bersantap yang Imersif
Esensi filosofis ini tertuang penuh dalam menu Volume 6: Passage. Setiap hidangan disusun secara presisi untuk menghadirkan kontras harmonis antara rasa yang ringan dan mendalam, serta paduan antara cita rasa familier dan penemuan baru.
Daripada mengandalkan kemewahan visual yang berlebihan, SU MA mengajak penikmat kuliner untuk sejenak melambat, mengoptimalkan pancaindera, dan meresapi detail di balik setiap sajian. Melalui kepemimpinan Chef Brendon dan Chef Ryan, SU MA berkomitmen untuk terus menjadi jembatan antara nilai masa lalu dan inovasi masa depan di dunia kuliner Jakarta. (RIZ)
















Discussion about this post