TANGERANG, WT – Menemukan benjolan pada payudara kerap menimbulkan kecemasan besar, namun para wanita tidak perlu khawatir berlebihan. Tidak semua benjolan payudara adalah kanker. Tumor payudara dapat bersifat jinak maupun ganas.
Dr. Feyona Heliani Subrata, Sp.B, Dokter Spesialis Bedah Umum Eka Hospital Depok, menekankan pentingnya mengetahui perbedaan mendasar kedua jenis tumor ini agar dapat menentukan langkah penanganan yang tepat.
Perbedaan Utama: Jinak vs. Ganas
Menurut dr. Feyona, tumor payudara adalah istilah umum untuk pertumbuhan sel abnormal yang membentuk massa atau benjolan. Perbedaan mendasar terletak pada sifat selnya.
Jenis Tumor Karakteristik Utama Sifat Pergerakan & Batas Risiko
Jinak Pertumbuhan terbatas, sel menyerupai normal Batas jelas, cenderung halus, mudah digerakkan Tidak menyebar, tidak mengancam jiwa
Ganas (Kanker) Pertumbuhan tidak terkendali, abnormal, agresif Batas tidak jelas, keras, cenderung melekat/kaku Dapat menyebar (metastasis) ke organ lain
Tipe tumor jinak yang paling umum meliputi Fibroadenoma (tumor padat, kenyal, sering pada usia muda), Kista Payudara (kantong berisi cairan), dan kondisi Fibrokistik (payudara terasa menggerenjel terkait siklus hormon). Sementara kanker payudara umumnya berawal dari saluran susu (ductal carcinoma) atau kelenjar penghasil susu (lobular carcinoma).
Tanda-Tanda Kanker yang Wajib Diwaspadai
Dokter Feyona mengingatkan, benjolan kanker seringkali tidak menimbulkan rasa sakit pada stadium awal. Masyarakat disarankan segera berkonsultasi jika menemukan tanda-tanda berikut pada payudara atau ketiak:
Benjolan keras, tidak rata, dan tidak dapat digerakkan.
Perubahan mendadak pada ukuran atau bentuk payudara.
Perubahan kulit, seperti penebalan, kemerahan, atau berlesung seperti kulit jeruk.
Puting susu tertarik ke dalam atau mengalami perubahan bentuk.
Keluarnya cairan atau darah abnormal dari puting (selain ASI).
Pembengkakan atau benjolan pada kelenjar getah bening di ketiak.
Gaya Hidup dan Pentingnya Deteksi Dini
Meskipun faktor risiko seperti usia (di atas 50 tahun) atau riwayat keluarga tidak dapat diubah, risiko dapat diminimalkan melalui gaya hidup sehat, seperti menjaga berat badan ideal, rutin olahraga, membatasi alkohol, dan menyusui.
Deteksi dini merupakan kunci utama penanganan. Dokter Feyona menyarankan:
SADARI (Periksa Payudara Sendiri): Dilakukan rutin setiap bulan, 7–10 hari setelah menstruasi.
SADANIS (Periksa Payudara Klinis): Pemeriksaan fisik langsung oleh dokter.
Pencitraan: Dokter mungkin menyarankan USG Payudara atau Mammografi untuk skrining.
Biopsi: Prosedur pengambilan sampel jaringan. Ini adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan diagnosis pasti apakah sel tersebut jinak atau ganas.
Skrining klinis dan Mammografi rutin umumnya disarankan bagi wanita mulai usia 40 tahun, atau lebih awal bagi mereka yang memiliki risiko tinggi.
Sebagai penutup, dr. Feyona menegaskan bahwa meskipun pria jarang terkena (kurang dari 1% kasus), mereka juga berisiko mengalami kanker payudara. Jika menemukan benjolan atau perubahan mencurigakan, jangan menunda. Langkah terbaik adalah mencari diagnosis yang cepat dan tepat. (RIZ)















Discussion about this post