TANGERANG, WT – Berawal dari hamparan rawa yang dipenuhi tumpukan sampah, Kampung Jimpitan di Kelurahan Batujaya, Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang, kini bertransformasi menjadi kawasan mandiri yang inspiratif. Mengandalkan kekuatan gotong royong dan tradisi menabung Rp500 sehari, warga setempat berhasil membuktikan bahwa perubahan besar berakar dari langkah sederhana.
Kisah sukses penataan lingkungan berbasis partisipasi masyarakat ini kini menarik perhatian luas, bahkan menjadi role model bagi berbagai daerah serta tengah menjalani penilaian ajang Ruang Bersama Indonesia (RBI).
Dari Rawa Sampah Menjadi Kampung Tematik Kreatif
Perjalanan perubahan Kampung Jimpitan dimulai pada tahun 2019. Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Loh Jinawi, Mimin (51), mengenang bagaimana kondisi awal kawasan tersebut yang jauh dari kata layak.
“Awalnya tempat ini rawa dan tempat pembuangan sampah. Tahun 2019, warga mulai membersihkan lingkungan supaya bisa digunakan untuk kegiatan bersama. Semuanya dilakukan secara bertahap dengan semangat gotong royong,” ujar Mimin.
Melalui sistem jimpitan, setiap kepala keluarga menyisihkan uang sebesar Rp500 setiap hari. Dana kas yang terkumpul dikelola secara transparan oleh bendahara untuk membiayai penataan lingkungan, perbaikan fasilitas umum, kas RT, hingga mendukung berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.
Pemberdayaan Ekonomi Lewat KWT Loh Jinawi dan Bank Sampah
Tidak hanya berfokus pada kebersihan fisik dan pengelolaan bank sampah, kehidupan sosial dan ekonomi di Kampung Jimpitan juga berdetak kencang berkat keterlibatan aktif warga dari berbagai kalangan.
Kaum perempuan yang tergabung dalam KWT Loh Jinawi aktif mengolah potensi tanaman di pekarangan menjadi produk UMKM bernilai ekonomis. Salah satu produk unggulan yang menarik perhatian adalah peyek daun bayam, kenikir, dan sirih, yang menjadi representasi kreativitas pangan lokal warga Batuceper.
Selain itu, fasilitas sosial seperti posyandu rutin, pengajian warga, ruang ramah anak, hingga senam lansia memastikan seluruh lapisan masyarakat terwadahi dalam ruang hidup yang harmonis. Berbagai instansi pemerintah seperti Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Sosial, dan Dinas Perpustakaan turut memberikan pembinaan dalam pengembangan kawasan ini.
Menuju Fasilitas Olahraga Berkelanjutan dan Prestasi Regional
Berkat konsistensi penataannya, Kampung Jimpitan kerap menjadi rujukan studi banding serta sukses menorehkan prestasi di berbagai ajang perlombaan, mulai dari lomba Kampung KB/RBI, lomba Pancasila, hingga evaluasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Dalam aspek tata ruang, warga bersama pemangku kepentingan terus berupaya memperkuat legalitas pemanfaatan lahan melalui skema pinjam pakai yang mencakup area aset terkait, termasuk koordinasi dengan pihak PLN dan Angkasa Pura. Ke depan, warga berharap dapat segera mewujudkan pembangunan lapangan futsal representatif bagi generasi muda hasil kolaborasi dengan arsitek dan pemerintah yang telah dirancang sejak tahun 2025.
Kini, di tengah momentum penilaian Ruang Bersama Indonesia (RBI), Kampung Jimpitan berdiri sebagai bukti otentik bahwa uang Rp500 bukan sekadar nominal receh. Di tangan warga yang kompak, ia menjelma menjadi simbol ketahanan sosial, kemandirian ekonomi, dan ikon kebanggaan Kota Tangerang. (ADV)
















Discussion about this post