TANGERANG, WT – Ribuan pengunjung dari berbagai daerah memadati kawasan Klenteng Koet Goan Bio (Mpeh Peh Cun) di Karawaci, Kota Tangerang. Kehadiran massa yang datang dari dalam maupun luar kota tersebut bertujuan untuk menyaksikan langsung kemeriahan Festival Budaya Petjoen (Peh Cun). Tradisi tahunan khas masyarakat Cina Benteng ini kembali digelar dengan penuh khidmat sekaligus semarak, menjadi magnet wisata budaya yang memikat daya tarik luas.
Wakil Ketua Panitia Acara, Anto Tjiu Abaw, menjelaskan bahwa Festival Budaya Peh Cun merupakan warisan leluhur yang rutin dilestarikan secara turun-temurun. Perayaan ini diselenggarakan khusus untuk mengenang sosok tokoh historis Qu Yuan (Koet Goan). Salah satu agenda sakral yang paling dinantikan dalam festival ini adalah ritual pembersihan perahu keramat kuno yang diyakini telah berusia ratusan tahun.
Ritual sakral tersebut dilaksanakan secara berkala setiap tahunnya, tepat pada tanggal lima bulan lima dalam penanggalan imlek atau yang dikenal dengan istilah Go Gwe Ce Go. Prosesi dimulai dengan membuka penyimpanan perahu, dilanjutkan dengan memandikan badan perahu menggunakan air kembang, serta diakhiri dengan pemberkatan doa khusus yang dipimpin oleh pemuka agama klenteng setempat agar membawa kebaikan bagi seluruh warga.
Keunikan ritual ini memicu antusiasme luar biasa dari para pengunjung yang hadir. Banyak di antara mereka yang rela mengantre demi mendapatkan potongan kain merah penolak bala serta sisa air basuhan kelopak bunga dari prosesi memandikan perahu tersebut. Bagi masyarakat yang memercayainya, air dan kain dari ritual perahu gaib nan bersejarah ini diyakini mampu mendatangkan keberkahan, aura kesehatan, serta keselamatan hidup.
Berdasarkan penuturan sejarah lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi, perahu legendaris tersebut memiliki ikatan historis yang sangat kuat dengan asal-usul komunitas lokal. Perahu kuno itu dikisahkan sebagai sarana transportasi yang membawa para leluhur warga Tionghoa saat pertama kali bermigrasi dan mendarat di bantaran Sungai Cisadane, Tangerang. Nilai sejarah yang magis inilah yang membuat wisatawan dari Jakarta, Bogor, hingga Cilegon selalu antusias datang ke Karawaci.
Selain ritual pencucian perahu yang sakral, rangkaian festival yang berlangsung dari tanggal 15 hingga 19 Juni 2026 ini juga dimeriahkan oleh beragam hiburan rakyat. Pengunjung disuguhkan alunan musik tradisional gambang kromong, pembagian kue sangjit secara gratis, hingga deretan stan bazar kuliner lokal. Panitia berharap perayaan budaya inklusif ini dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat luas serta terus dijaga kelestariannya oleh generasi muda di masa depan. (RIK)
















Discussion about this post