TANGSEL, WT – Dampak musim kemarau panjang kian meluas di Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten. Menyusutnya cadangan air tanah membuat sumur-sumur warga di sejumlah wilayah mengering hingga memicu krisis air bersih.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangsel, Essa Nugraha Sudjana, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima permohonan bantuan air dari warga sejak 8 Juli hingga 4 Agustus 2026. Dari laporan tersebut, tercatat ada 10 titik lokasi yang mengalami kekeringan.
“Sembilan dari sepuluh titik kekeringan berlokasi di Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu termasuk wilayah RT 002/RW 01, RT 005 & RT 006/RW 02, serta RT 009 & RT 013/RW 05. Sementara satu wilayah lainnya berada di RT 006/RW 04, Kecamatan Serpong. Secara keseluruhan, ada sebanyak 130 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak krisis air ini,” katanya pada Rabu, (5/8/2026).
Faktor kondisi geografis menjadi salah satu pemicu utama cepatnya penurunan debit air. Wilayah Keranggan yang berada di dataran tinggi dinilai lebih rawan karena cadangan air tanahnya mengalami penguapan lebih cepat selama kemarau. Selain itu, ketergantungan warga pada sumur gali dangkal membuat pasokan air warga langsung habis begitu tinggi permukaan air tanah turun.
Sebagai langkah penanganan darurat, BPBD Tangsel bekerja sama dengan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang telah mendistribusikan sebanyak 206.050 liter air bersih ke lokasi terdampak. Tak hanya itu, pemerintah setempat juga menyiagakan 135 unit toren penampung air berkapasitas 2.000 liter di titik-titik krusial. Guna memberikan solusi jangka panjang, Pemerintah Kota Tangsel juga merencanakan pembangunan serta penambahan titik sumur bor baru di wilayah-wilayah rawan kekeringan. (RAY)















Discussion about this post