• Tentang Kami
  • Contact
Kamis, 7 Mei 2026
Wartatangerang.com
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Kabupaten Tangerang
  • Kota Tangerang
  • Kota Tangsel
  • Banten
  • Nasional
  • Indeks
  • Home
  • Kabupaten Tangerang
  • Kota Tangerang
  • Kota Tangsel
  • Banten
  • Nasional
  • Indeks
No Result
View All Result
Warta Tangerang
No Result
View All Result
Home Opini

Kampus atau Kantin Negara? Ketika Skripsi Kalah Sama Sendok Nasi

Oleh: Rizki
Kamis, 7 Mei 2026 / 17:04 WIB
Andi Dody May Putra Agustang.

Andi Dody May Putra Agustang.

Share on FacebookShare on Twitter

Masuknya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ke lingkungan perguruan tinggi seperti yang mulai dipraktikkan di Universitas Hasanuddin sekilas tampak sebagai inovasi sosial yang layak dirayakan. Kampus tidak lagi terjebak dalam menara gading, melainkan turun langsung mengurus persoalan konkret: gizi, pangan, dan kesejahteraan masyarakat. Dalam bahasa kebijakan, ini disebut sebagai penguatan fungsi pengabdian kepada masyarakat. Dalam bahasa yang lebih populer: kampus akhirnya “berguna”. Namun justru di titik inilah problem dimulai. Sebab tidak semua yang tampak berguna itu bebas dari konsekuensi. Dan tidak semua intervensi sosial yang dilakukan kampus otomatis memperkuat posisi akademiknya. Ada satu pertanyaan yang perlu diajukan secara jujur: apakah ini bentuk kemajuan, atau justru awal dari pergeseran fungsi universitas yang lebih dalam dan lebih problematis?

Secara historis, universitas dibangun sebagai ruang otonom tempat di mana pengetahuan diproduksi secara relatif bebas dari tekanan kekuasaan dan kepentingan praktis jangka pendek. Ia bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi juga arena kritik sosial. Dalam kerangka Jurgen Habermas, universitas merupakan bagian dari ruang publik di mana rasionalitas komunikatif berkembang: diskursus, debat, dan kritik terhadap sistem. Masuknya SPPG ke kampus mengubah konfigurasi ini secara signifikan. Kampus tidak lagi hanya menjadi pengamat atau pengkritik kebijakan, tetapi menjadi bagian dari mesin implementasi itu sendiri. Dapur bukan sekadar fasilitas ia adalah simbol.

READ ALSO

Saat Penjelasan Resmi Kalah Cepat dari Tafsir Publik

KPK versus Kejaksaan: Pemberantasan Korupsi atau Perebutan Panggung?

Ia menandai bahwa universitas telah masuk ke dalam logika operasional negara dimana logika yang menuntut efisiensi, kepatuhan, dan output terukur. Di titik ini, universitas mulai mengalami apa yang oleh Habermas disebut sebagai kolonisasi dunia kehidupan oleh sistem. Rasionalitas akademik yang seharusnya reflektif dan kritis perlahan digantikan oleh rasionalitas instrumental yang pragmatis dan administratif. Kampus tidak lagi bertanya “apakah kebijakan ini tepat?”, tetapi sibuk memastikan “apakah kebijakan ini berjalan?”

Transformasi ini tidak berhenti pada level simbolik. Ia merembes ke dalam struktur akademik itu sendiri. Fungsi-fungsi utama universitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian mengalami reposisi yang halus tetapi signifikan. Pengabdian kepada masyarakat, yang semestinya berbasis refleksi kritis dan partisipasi emansipatoris, berpotensi direduksi menjadi implementasi teknokratis. Program dijalankan, laporan disusun, indikator tercapai. Selesai. Yang hilang adalah dimensi reflektif: untuk siapa program ini, siapa yang diuntungkan, dan siapa yang justru terpinggirkan.

Penelitian pun tidak sepenuhnya steril dari dampak ini. Ketika kampus terlibat langsung dalam program negara, ada kecenderungan riset diarahkan untuk mendukung dan melegitimasi program tersebut. Kritik menjadi tidak nyaman. Jarak kritis menyempit. Dan akhirnya pengetahuan kehilangan otonominya. Yang perlu di kasihani adalah mahasiswa, dalam konteks ini, menghadapi posisi yang ambigu. Di satu sisi, mereka dilibatkan dalam praktik nyata yang kontekstual.

Namun di sisi lain, ada risiko bahwa mereka direduksi menjadi tenaga operasional terselubung bagian dari rantai produksi layanan, bukan lagi menjadi subjek intelektual yang otonom. Dalam perspektifnya Louis Althusser, kondisi ini dapat dibaca sebagai transformasi universitas menjadi aparatus ideologis negara. Ia tidak lagi sekadar memproduksi pengetahuan, tetapi juga mereproduksi logika dan kepentingan kekuasaan melalui praktik sehari-hari.

Malahan yang paling problematis dari fenomena ini bukanlah keberadaan SPPG itu sendiri, melainkan proses normalisasi yang menyertainya. Ketika publik mulai menerima bahwa kampus wajar menjadi pelaksana program negara, maka batas antara ruang akademik dan ruang administratif menjadi kabur. Hari ini dapur, besok bisa program lain: distribusi bantuan sosial, pengelolaan data kependudukan, bahkan fungsi-fungsi administratif yang lebih luas.

Tanpa disadari, universitas berubah menjadi unit layanan kebijakan publik yang kebetulan masih mengajar. Proses ini berlangsung secara halus, tanpa resistensi berarti, karena dibungkus dalam narasi kebaikan: gizi, kesejahteraan, pengabdian. Kritik terhadapnya mudah disalahpahami sebagai sikap anti-sosial atau tidak peka terhadap masalah rakyat. Padahal yang dipersoalkan bukan tujuannya, melainkan posisi dan peran institusi.

Sekiranya penting untuk ditegaskan: kritik terhadap SPPG di kampus bukan berarti menolak program pemenuhan gizi. Tidak ada yang salah dengan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Yang perlu dipersoalkan adalah bagaimana dan di mana program itu dijalankan. Universitas memiliki kekuatan justru karena jaraknya dari kekuasaan. Ia bisa mengkaji, mengevaluasi, dan mengkritisi kebijakan tanpa harus terjebak dalam logika implementasi. Namun ketika jarak itu hilang, maka fungsi kritis ikut melemah. Jika fungsi itu digeser demi efisiensi program, maka kita sedang kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar dapur: kita kehilangan otonomi intelektual.

Mungkin tidak ada yang salah ketika mahasiswa belajar sambil melihat dapur SPPG beroperasi. Bahkan itu bisa menjadi pengalaman empiris yang berharga. Namun akan menjadi masalah serius jika suatu saat mahasiswa lebih sibuk menghitung distribusi nasi daripada mempertanyakan struktur ketimpangan yang menyebabkan kelaparan itu sendiri. Di titik itu, kampus tidak lagi menjadi ruang kritik, tetapi hanya menjadi bagian dari solusi yang tidak pernah mempertanyakan akar masalah. Dan ketika itu terjadi, mungkin kita memang perlu bertanya ulang, dengan nada sedikit bercanda tapi serius: ini kampus, atau kantin negara?

Penulis:
Andi Dody May Putra Agustang
Mahasiswa Program Doktoral Sosiologi, Universitas Indonesia

Tags: Andi Dody May Putra AgustangSatuan Pelayanan Pemenuhan GiziSPPGSPPG Masuk kampus

Temukan berita terkini Wartatangerang.com di Google News. Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang*

Previous Post

Persiapan Musim Kemarau, AZKO Pondok Cabe Hadirkan Promo Penyejuk dan Penjernih Udara hingga Diskon 50 Persen

Related Posts

Saat Penjelasan Resmi Kalah Cepat dari Tafsir Publik
Opini

Saat Penjelasan Resmi Kalah Cepat dari Tafsir Publik

Oleh: Rizki
Kamis, 12 Februari 2026 / 21:24 WIB
KPK versus Kejaksaan: Pemberantasan Korupsi atau Perebutan Panggung?
Opini

KPK versus Kejaksaan: Pemberantasan Korupsi atau Perebutan Panggung?

Oleh: Rizki
Kamis, 25 Desember 2025 / 09:55 WIB
Informasi Lengkap tentang KLH dan Dinas Lingkungan Hidup di Indonesia
Opini

Informasi Lengkap tentang KLH dan Dinas Lingkungan Hidup di Indonesia

Oleh: wartatangerang.com
Kamis, 18 Desember 2025 / 02:53 WIB
Integritas Bukan Diwariskan Lewat Kata, Tetapi dengan Keteladanan
Opini

Integritas Bukan Diwariskan Lewat Kata, Tetapi dengan Keteladanan

Oleh: Rizki
Jumat, 12 Desember 2025 / 16:35 WIB
Hari Santri Tonggak Perjuangan di Indonesia
Opini

Hari Santri Tonggak Perjuangan di Indonesia

Oleh: Rizki
Rabu, 22 Oktober 2025 / 13:30 WIB
Ziarah Makam Tokoh Pendahulu di Kali Pasir Warnai Tradisi Maulid Nabi di Kota Tangerang
Kota Tangerang

Ziarah Makam Tokoh Pendahulu di Kali Pasir Warnai Tradisi Maulid Nabi di Kota Tangerang

Oleh: Rizki
Kamis, 4 September 2025 / 20:54 WIB

Discussion about this post












WARTA TERKINI

Kampus atau Kantin Negara? Ketika Skripsi Kalah Sama Sendok Nasi

Kampus atau Kantin Negara? Ketika Skripsi Kalah Sama Sendok Nasi

Kamis, 7 Mei 2026 / 17:04 WIB
Persiapan Musim Kemarau, AZKO Pondok Cabe Hadirkan Promo Penyejuk dan Penjernih Udara hingga Diskon 50 Persen

Persiapan Musim Kemarau, AZKO Pondok Cabe Hadirkan Promo Penyejuk dan Penjernih Udara hingga Diskon 50 Persen

Kamis, 7 Mei 2026 / 10:28 WIB
Ramada by Wyndham Serpong Hadirkan Program 24 Hour Staycation, Tamu Bisa Menginap Lebih Fleksibel

ARYADUTA Lippo Village Perkenalkan Cita Rasa Tradisional Lewat Kampanye Sapta Rasa 2026

Kamis, 7 Mei 2026 / 09:51 WIB
Ramada by Wyndham Serpong Hadirkan Program 24 Hour Staycation, Tamu Bisa Menginap Lebih Fleksibel

Ramada by Wyndham Serpong Hadirkan Program 24 Hour Staycation, Tamu Bisa Menginap Lebih Fleksibel

Kamis, 7 Mei 2026 / 09:33 WIB
Nikmati Staycation dan Kuliner Nusantara di Howard Johnson Tangerang, Ada Ballroom Baru Berkapasitas 1.000 Orang

Nikmati Staycation dan Kuliner Nusantara di Howard Johnson Tangerang, Ada Ballroom Baru Berkapasitas 1.000 Orang

Kamis, 7 Mei 2026 / 09:10 WIB
Gagal Curi Poin, Persita Dipaksa Menyerah 0-2 oleh Borneo FC

Gagal Curi Poin, Persita Dipaksa Menyerah 0-2 oleh Borneo FC

Rabu, 6 Mei 2026 / 09:46 WIB
Dari Dance hingga Retro Car, Pop & Play Ramaikan Mall @ Alam Sutera

Dari Dance hingga Retro Car, Pop & Play Ramaikan Mall @ Alam Sutera

Rabu, 6 Mei 2026 / 09:39 WIB
ARYADUTA Lippo Village Ajak Lansia Sehat Tanpa Obat Lewat Terapi Gerak

ARYADUTA Lippo Village Ajak Lansia Sehat Tanpa Obat Lewat Terapi Gerak

Rabu, 6 Mei 2026 / 09:27 WIB
Facebook Twitter Instagram Youtube
Wartatangerang.com

  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman
  • Privacy Policy
  • Contact

© 2022 Wartatangerang.com | Situs Berita dan Informasi Seputar Tangerang

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Kabupaten Tangerang
  • Kota Tangerang
  • Kota Tangsel
  • Banten
  • Nasional
  • Indeks

© 2022 Wartatangerang.com | Situs Berita dan Informasi Seputar Tangerang