WARTATANGERANG. Demensia adalah sindrom gangguan penurunan fungsi otak yang mempengaruhi fungsi kognitif (memori), emosi dan perilaku aktivitas sehari-hari. Saat ini, di dunia, lebih dari 50 juta orang mengalami demensia dan Demensia Alzheimer adalah jenis demensia yang terbanyak, sekitar 60-70%.
Masyarakat sering menyebut kondisi ini sebagai pikun. Pikun seringkali dianggap biasa dialami oleh lansia karena bertambahan usia sehingga Demensia Alzheimer seringkali tidak terdeteksi. Padahal, gejalanya dapat dialami sejak usia muda (early on-set demensia).
Deteksi dini membantu penderita dan keluarganya untuk dapat menghadapi dampak penurunan fungsi kognitif (memori) dan pengaruh psiko-sosial dari penyakit ini dengan lebih baik. Selain itu penanganan Alzheimer sejak dini juga penting untuk memperlambat terjadinya kepikunan.
“Dampak infeksi Covid-19 pada otak yangg paling sering adalah ensefalopati akibat peradangan pada susunan saraf pusat, yang mana gejala ini bertahan beberapa bulan setelah penyakit awal. Gejala beragam seperti stroke dan gangguan fungsi kognitif (memori) atau daya pikir yang paling sering muncul adalah penurunan daya ingat atau pelupa, terutama memori baru atau mudah lupa mengingat hal-hal baru,” kata Dokter Spesialis Saraf RSUP Sardjito Yogyakarta, Dr. dr. Astuti, Sp.S(K) saat webinar Demensia Alzheimer di Masa Pandemi, Sabtu, (28/8).
Menurutnya, kondisi Brain Fog pada Covid-19, yaitu gejala penurunan fungsi berpikir yang ditandai dengan mudah bingung, mudah lupa, sulit konsentrasi, dan sulit membuat keputusan sehari-hari perlu di waspadai dan perlu pemeriksaan lanjutan. Deteksi sedini mungkin gangguan fungsi kognitif (memori).
“Selama covid-19 sangat penting, tujuannya untuk diagnosis sedini mungkin untuk dapat dilakukan intervensi sedini mungkin, mencegah terjadinya Demensia atau pikun, terutama Demensia Alzheimer,” tegas Astuti.
Perjalanan penyakitnya kronis memburuk dan mengakibatkan kualitas hidup penderitanya buruk, menjadi beban berat bagi keluarga dan masyarakat. Karena infeksi Covid-19 meningkatkan pengentalan darah sehingga meningkatkan risiko stroke.
“Sering terjadi pada pasien penderita Covid-19, stroke yang tidak bergejala. Stroke dapat menurunkan daya ingat jangka panjang dan berisiko menjadi demensia Alzheimer,” ujar Astuti.
Dokter Spesialis Saraf dari RSUP Sardjito, dr. Abdul Gofir, M.Sc, Sp.S(K) menambahkan, gangguan tidur sering dialami oleh lansia. Terutama dengan penyakit kronis maupun demensia. Di masa pandemi ini, kejadian gangguan tidur sering dikaitkan dengan kekhawatiran terkait maraknya covid-19 dan bahayanya.
“Gangguan tidur yang berkepanjangan, baik yang berupa insomnia atau gangguan irama sirkadian, dapat mempengaruhi fungsi kognitif (memori). Penderita gangguan tidur dapat mengalami kesulitan berkonsentrasi, mudah terdistraksi, mudah lupa, dan mempengaruhi kemampuan dalam mengambil keputusan,” pungkasnya.
Dokter Spesialis Saraf lainnya, dr. Amelia Nur Vidyanti, Sp.S(K), Ph.D mengatakan, Demensia Alzheimer merupakan penyakit neurodegeneratif yang ditandai dengan penurunan daya ingat, gangguan perikaku dan penurunan kemampuan fungsional yang sifatnya progresif. Hingga saat ini, pengobatan penyakit ini masih bersifat simtomatis, yaitu untuk mengurangi keparahan dari gejalanya.
“Pengobatan demensia Alzheimer bersifat jangka panjang dan berkelanjutan. Pengobatan yang berkelanjutan akan memperlambat proses perjalanan penyakit, mengurangi gejala, meningkatkan kemandirian, mengurangi angka rawat inap di rumah sakit, dan meningkatkan kualitas hidup bagi penderita demensia Alzheimer dan keluarganya,” terangnya. (RAY)
























Discussion about this post