TANGERANG, WT – Gelaran internasional Enlit Asia yang berkolaborasi dengan Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) Electricity Connect 2026 resmi ditutup pada 24 September 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City. Selama tiga hari pelaksanaan, forum energi terbesar di kawasan ini berhasil menyedot perhatian lebih dari 11.000 pengunjung, 280 eksibitor, serta ratusan pakar dan pemimpin industri global.
Mengusung tema “Powering Regional Sovereignty, Securing Energy Systems Resilience”, ajang ini menjadi wadah krusial dalam membahas berbagai isu strategis, seperti modernisasi jaringan listrik, penerapan kecerdasan buatan (AI), dekarbonisasi sektor industri, pasokan listrik untuk data center, hingga wacana pengembangan energi nuklir.
Komitmen Investasi dan Kolaborasi Lintas Sektor
Sinergi sektor publik dan swasta menjadi sorotan utama dalam acara ini. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membuka acara secara resmi bersama jajaran pimpinan Kementerian ESDM dan PT PLN (Persero).
Sebagai bentuk konkret dari forum ini, disepakati enam kerja sama strategis bernilai total Rp3,3 triliun. Investasi hijau ini mencakup penguatan infrastruktur energi, pengembangan teknologi bersih (clean technology), peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), serta akselerasi pendanaan ramah lingkungan.
Ketua Pelaksana Electricity Connect 2026 sekaligus Direktur Distribusi PT PLN (Persero), Arsyadany G. Akmalaputri, menegaskan bahwa dialog yang terjadi tidak berhenti sebagai wacana semata.
“Kami melihat dinamika diskusi yang sangat konkret terkait tantangan sektor ketenagalistrikan saat ini. Bagi MKI, target utamanya adalah memastikan gagasan yang mengemuka dapat terealisasi menjadi solusi dan kerja sama nyata untuk keandalan sistem kelistrikan nasional,” ujar Arsyadany.
Indonesia Sebagai Pusat Transisi Energi Regional
Pertumbuhan ekonomi dan cepatnya ekspansi infrastruktur digital di Asia Tenggara mendorong lonjakan kebutuhan listrik yang signifikan. Portfolio Director Enlit Asia – Clarion Events, Simon Hoare, menilai posisi Indonesia sangat vital dalam peta transisi energi regional.
“Permintaan daya di ASEAN terus meningkat pesat seiring bertumbuhnya industri dan pusat data. Melalui ajang ini, kami mempertemukan pembuat kebijakan, operator, investor, dan penyedia teknologi secara langsung agar bertukar ide serta menciptakan koneksi yang berkelanjutan demi ketahanan energi ASEAN,” ungkap Simon.
Selain sesi diskusi dan pameran teknologi mutakhir di bidang pembangkitan hingga distribusi daya, acara ini juga memfasilitasi program business matching. Langkah ini diharapkan mampu mempercepat realisasi proyek-proyek energi terbarukan dan memperkuat kedaulatan energi di Indonesia maupun Asia Tenggara. (RIZ)
















Discussion about this post