Makanan apa yang tidak mengandung gula sama sekali? Ya, rasanya hampir setiap makanan mengandung setidaknya sedikit gula, entah itu dari makanan dan minuman harian, produk kemasan, hingga produk olahan. Sayangnya, masih banyak informasi yang kurang tepat dan mitos tentang gula sehingga menimbulkan beragam pertanyaan.
Maka itu, sebaiknya cari tahu lebih lanjut mitos tentang gula apa saja yang sering beredar di masyarakat, beserta kebenarannya.
Beragam mitos tentang gula yang keliru
Mitos 1: Apa pun jenisnya, gula itu tidak sehat
Anda mungkin sering mendengar imbauan untuk tidak terlalu banyak makan gula. Padahal, tidak semua gula itu berbahaya. Gula yang kerap dikhawatirkan biasanya adalah gula yang terkandung dalam produk makanan dan minuman olahan seperti soft drink, permen, kue kering kemasan (cookies), snack kemasan, dan lainnya.
Georgia Fear, RD, seorang ahli gizi sekaligus penulis buku Lean Habits for Lifelong Weight Loss, menjelaskan bahwa gula dalam beberapa produk tersebut umumnya berbeda dengan gula alami yang memang sudah ada di beberapa makanan dan minuman, seperti gula alami dalam buah atau susu.
Tentunya, gula alami tidaklah berbahaya bahkan tergolong sehat, karena “dikemas” sepaket dengan vitamin, mineral, dan nutrisi baik lainnya guna mengimbangi beberapa aspek negatif dari gula. Ambil contoh, selain mengandung gula alami, buah juga kaya akan serat yang bermanfaat untuk membantu penyerapan gula pada tingkat yang lebih lambat.
Mitos 2: Hindari konsumsi gula

Faktanya, gula diperlukan tubuh untuk diubah menjadi glukosa yang kemudian akan diedarkan ke seluruh tubuh sebagai bahan bakar bagi otak dan organ tubuh lainnya. Kuncinya bukanlah benar-benar menghilangkan gula dari asupan sehari-hari, melainkan membatasi konsumsinya sesuai dengan takaran yang dianjurkan.
Menurut Pedoman Gizi Seimbang yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, batasan konsumsi gula per orang yakni 50 gram gula atau setara dengan 5-9 sendok teh dalam sehari.
Intinya, konsumsi gula dalam jumlah secukupnya, sehingga tubuh bisa tetap mendapat asupan gula tapi tidak membahayakan kesehatan.
Mitos 3: Tidak mungkin untuk menghindari gula

Kata siapa mengendalikan konsumsi gula itu mustahil? Anda mungkin termasuk pecinta makanan manis, atau sedang berusaha untuk meminimalisir asupan gula demi menghindari dampak buruknya. Tenang saja, ada cara tepat yang bisa dilakukan tanpa harus membuat Anda tersiksa.
Alih-alih menjauhi gula dan makanan manis lainnya, cobalah makan dengan porsi yang lebih kecil. Dengan begitu, tubuh masih bisa mendapat asupan gula tanpa harus khawatir akan efek sampingnya.
Usahakan juga untuk lebih banyak makan makanan olahan rumah yang alami, bukan beli makanan di luar. Dengan begitu, Anda tahu persis apa saja kandungan dalam makanan dan minuman yang Anda konsumsi sehari-hari.
Mitos 4: Gula adalah penyebab berbagai penyakit

Mitos tentang gula yang satu ini memang agak rumit. Bila ditelisik lebih dalam, penyakit kronis seperti penyakit jantung, obesitas, dan diabetes terjadi karena kombinasi dari beberapa faktor risiko. Misalnya di samping kebanyakan mengonsumsi gula, Anda juga punya faktor genetik (keturunan), kurang olahraga, dan kebanyakan konsumsi makanan berlemak. Itu sebabnya menyatakan gula sebagai penyebab utama berbagai jenis penyakit itu kurang tepat.
Memang, hal-hal yang berkaitan tentang gula sering dikaitkan dengan faktor penambahan berat badan dan penyakit kronis. Seorang direktur gizi dari International Food Information Council Foundation, Kris Sollid, RD pun membenarkan hal ini. Kondisi tersebut bisa terjadi karena asupan energi dari makanan dan minuman tidak seimbang dengan pengeluaran energi melalui aktivitas fisik.
Yang harus diingat adalah selama tidak berlebihan, konsumsi gula tidak berbahaya bagi kesehatan Anda. Kembali lagi, Anda yang mengenal betul kondisi tubuh Anda, maka sebaiknya batasi makanan dan minuman yang mengandung gula sesuai dengan kemampuan tubuh.
Mitos 5: Mengurangi gula bisa menurunkan berat badan

Membatasi asupan gula dari makanan dan minuman disinyalir bisa membantu Anda mencapai berat badan ideal. Padahal tidak hanya itu, kalori juga harus diperhatikan jika Anda berencana untuk mengurangi berat badan. Menurut Georgia Fear, ketika Anda membatasi konsumsi gula dan menggantinya dengan makanan lain yang tinggi kalori, maka Anda akan tetap kesulitan untuk mendapat berat badan yang optimal.
Dengan kata lain, diet rendah gula tidak akan membantu menurunkan berat badan apabila tidak diiringi dengan menjaga pola hidup sehat secara keseluruhan.
Lalu apa yang harus dilakukan? Lagi-lagi, batasi konsumsi makanan dan minuman yang dapat berujung pada penambahan berat badan. Misalnya makanan berlemak, makanan tinggi kalori, serta makanan dan minuman kemasan. Jangan lupa, Anda juga harus rajin olahraga kalau mau berat badan berkurang.
Mitos 6: Gula dari pemanis buatan tidak bikin gemuk

Tergoda untuk mencoba minuman atau makanan yang mengandung gula dari pemanis buatan, misalnya diet soda yang digadang-gadang sebagai minuman berkarbonasi bebas kalori? Eits, tunggu dulu. Pasalnya, berdasarkan analisis dari 37 penelitian yang diterbitkan dalam Canadian Medical Assocation Journal, pemanis buatan atau yang dikenal juga dengan pemanis rendah kalori seperti siklamat, sukralosa, aspartam, dan sakarin dapat memicu kenaikan berat badan, bukan malah menurunkannya. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya peningkatan produksi lemak di dalam tubuh.
Jadi, bukan berarti karena Anda menggunakan pemanis buatan Anda lantas mengonsumsinya secara berlebihan dan tanpa batas. Anda tetap saja harus memerhatikan berapa banyak pemanis buatan yang telah Anda konsumsi sehari-hari.
The post Meluruskan 6 Mitos Soal Gula yang Paling Banyak Dipercaya appeared first on Hello Sehat.















Discussion about this post