TANGSEL, WT – Masalah kesehatan reproduksi seperti miom dan kista masih sering menjadi kekhawatiran besar bagi kaum wanita. Meski mayoritas kasusnya bersifat jinak (non-kanker), kehadiran benjolan atau kantong cairan di area rahim ini tidak boleh disepelekan karena berpotensi mengganggu kenyamanan hingga memengaruhi peluang kehamilan.
dr. Budi Santoso, Sp.OG, FMAS, Dokter Spesialis Kandungan dari Eka Hospital BSD, menjelaskan masyarakat awam sering kali menyamakan miom dengan kista, padahal secara medis keduanya sangat berbeda.
Mengenal Perbedaan Miom dan Kista
Menurut dr. Budi, perbedaan mendasar terletak pada struktur dan lokasi pertumbuhannya:
Miom (Fibroid Rahim): Merupakan pertumbuhan jaringan otot yang padat di dinding rahim. Miom lebih menyerupai tumor otot yang tidak bersifat ganas.
Kista: Berupa kantong yang berisi cairan. Meskipun sering disebut “kista rahim”, kondisi ini sebenarnya lebih sering berkembang di indung telur atau ovarium (kista ovarium). “Singkatnya, miom itu padat seperti otot, sedangkan kista itu seperti balon berisi air,” tuturnya.
Hingga saat ini, penyebab pasti miom belum diketahui secara absolut, namun hormon estrogen dan progesteron berperan besar dalam pertumbuhannya. Inilah alasan mengapa miom jarang ditemukan sebelum masa pubertas dan cenderung mengecil setelah menopause.
Faktor risiko miom meliputi:
Kelebihan berat badan (obesitas).
Faktor keturunan atau riwayat keluarga.
Belum pernah memiliki anak.
Ketidakseimbangan hormon.
Sementara itu, kista ovarium sering kali berkaitan dengan siklus menstruasi (ovulasi) yang normal. Namun, kista juga bisa dipicu oleh kondisi medis lain seperti endometriosis, PCOS (Polycystic Ovary Syndrome), atau infeksi panggul.
Gejala yang Patut Diwaspadai
dr. Budi Santoso mengingatkan agar para wanita tidak mengabaikan perubahan pada tubuh. Jika ukuran miom atau kista membesar, beberapa gejala yang mungkin muncul antara lain:
Gejala Miom: Perdarahan hebat saat haid, nyeri punggung bawah, perut tampak membuncit, sering buang air kecil karena tekanan pada kandung kemih, hingga nyeri saat berhubungan seksual.
Gejala Kista: Rasa penuh atau begah di perut bawah (terutama di satu sisi), siklus menstruasi tidak teratur, dan nyeri panggul.
Dampak terhadap Kesuburan dan Kehamilan
Salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan adalah apakah kondisi ini menyebabkan mandul. dr. Budi menjelaskan bahwa miom jarang menyebabkan infertilitas total, namun jika terjadi saat hamil, miom dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur atau gangguan pertumbuhan janin.
Di sisi lain, kista yang berkaitan dengan PCOS justru lebih berisiko menghambat kehamilan karena berkaitan dengan sel telur yang tidak matang secara sempurna.
Langkah Pencegahan dan Kapan Harus ke Dokter?
Meskipun penyebabnya belum pasti, dr. Budi menyarankan gaya hidup sehat dan menjaga berat badan ideal sebagai langkah pencegahan primer. Pemeriksaan panggul dan USG secara rutin sangat dianjurkan untuk deteksi dini.
Segera konsultasikan ke dokter jika Anda mengalami:
Nyeri perut atau panggul yang menetap.
Menstruasi yang sangat deras atau berlangsung lebih dari 7 hari.
Perdarahan di luar jadwal menstruasi.
Perut yang membesar dengan cepat secara tidak wajar.
“Operasi tidak selalu menjadi jalan keluar utama. Terkadang, pemantauan berkala sudah cukup jika kondisinya tidak mengganggu. Kuncinya adalah deteksi sedini mungkin,” pungkas dr. Budi Santoso. (RIZ)
















Discussion about this post