TANGERANG, WT – Langit sepak bola Indonesia mendung. Jumat (13/2/2026), sebuah kabar duka menyebar dari bibir ke bibir para pecinta lapangan hijau. Elly Idris, sosok yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk si kulit bundar, telah berpulang di usia 63 tahun. Kepergiannya bukan sekadar kehilangan bagi keluarga, tapi juga bagi sejarah panjang sepak bola nasional yang pernah ia lukis dengan tinta emas.
Lahir di Kepulauan Sula, Maluku Utara, pada 4 November 1962, Elly Idris bukan sekadar pemain sepak bola biasa. Ia adalah representasi dari era kejayaan Galatama, masa di mana kompetisi semi-profesional Indonesia berada pada titik yang sangat kompetitif.
Raja Galatama yang Rendah Hati
Jika ada pemain yang layak dijuluki sebagai “kolektor trofi” di era 80-an, Elly Idris adalah orangnya. Kariernya di Galatama adalah rangkaian kemenangan demi kemenangan. Namanya melegenda bersama Yanita Utama saat merengkuh gelar juara musim 1983-1984. Tak berhenti di situ, ia melanjutkan dominasinya bersama Krama Yudha Tiga Berlian dengan hattrick gelar juara pada 1985 hingga 1987.
Sentuhan magisnya di lini tengah kembali membawa Pelita Jaya berjaya, mengoleksi tiga trofi beruntun (1988-1990). Rentetan prestasi ini bukan hanya soal bakat, tapi tentang visi bermain dan kedisiplinan yang luar biasa.
Garuda di Dadaku: Kenangan Seoul 1986
Di level internasional, Elly Idris adalah pilar penting Skuad Garuda. Momen paling ikonik dalam karier timnasnya adalah saat ia membantu Indonesia menembus semifinal Asian Games 1986 di Seoul, Korea Selatan. Prestasi itu hingga kini tetap menjadi standar tinggi bagi pencapaian tim nasional di kancah Asia. Ia adalah bagian dari generasi emas yang membuat nama Indonesia disegani di panggung internasional.
Cinta Abadi untuk Persita Tangerang
Meski telah melalang buana ke klub-klub besar, hati Elly Idris tertambat di Tangerang. Menjelang akhir karier bermainnya, ia mengenakan seragam ungu Persita. Namun, cintanya tidak berhenti saat ia gantung sepatu pada usia 34 tahun.
Elly bertransformasi menjadi juru taktik. Ia sempat menjadi asisten pelatih pada 2007, sebelum akhirnya dipercaya menjadi nakhoda utama Pendekar Cisadane dalam beberapa periode (2009-2010, 2010-2013, dan 2017-2018). Bagi fans Persita, Elly adalah figur ayah sekaligus mentor yang tak pernah lelah memotivasi pemain muda.
Warisan yang Takkan Padam
Kepergian Elly Idris meninggalkan lubang besar di hati insan sepak bola. Namun, ia meninggalkan warisan yang jauh lebih berharga daripada trofi: etos kerja, loyalitas, dan kecintaan yang murni pada sepak bola Indonesia.
Di setiap sudut Stadion Indomilk Arena, kenangan akan teriakan instruksinya dari pinggir lapangan dan senyum tenangnya akan selalu hidup. Elly Idris mungkin telah pergi, namun namanya akan selalu abadi dalam setiap bab sejarah sepak bola yang kita banggakan.
Selamat jalan, Coach Elly. Terima kasih untuk setiap keringat dan prestasi bagi negeri. (RIZ)























Discussion about this post