TANGERANG, WT – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) kembali menunjukkan perannya sebagai penggerak ekonomi daerah maupun nasional. Sejak mulai dikembangkan pada 2009, keberadaan KEK terbukti memberikan kontribusi signifikan. Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian hingga akhir Juni 2025, realisasi investasi kumulatif KEK telah mencapai Rp286,8 triliun pada Semester I 2025.
Salah satu KEK yang menjadi pusat perhatian adalah Kawasan Ekonomi Khusus Edukasi, Teknologi, dan Kesehatan Internasional (KEK ETKI) Banten, atau dikenal sebagai D-HUB SEZ di BSD City. Kawasan ini kembali mempertegas perannya sebagai ruang strategis bagi dialog nasional terkait inovasi dan akselerasi investasi.
Pada 2 Desember 2025, KEK ETKI Banten bersama SUAR menggelar Roundtable Decision bertema “Kawasan Ekonomi Khusus Akseleratif, Atraktif: Tingkatkan Investasi dan Lapangan Kerja” yang berlangsung di Experience Center, Biomedical Campus, BSD City.
Acara ini menghadirkan dua keynote speaker: Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin dan Sekretaris Kemenko Perekonomian RI Susiwijono Moegiarso. Diskusi panel turut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, antara lain Plt. Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK Rizal Edwin Manansang, Direktur Eksekutif KEK Kendal Juliani Kusumaningrum, Direktur Utama InJourney Hospitality/KEK Sanur Christine Hutabarat, Strategy Advisor KEK ETKI Banten Mulyawan Gani, Kepala BUPP KEK ETKI Banten Lindawaty Chandra, Ekonom Senior Aviliani, serta Founder SUAR.id Sutta Dharmasaputra.
Industri Kesehatan Jadi Peluang Besar
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan perlunya pembangunan industri kesehatan di dalam negeri. Ia menyebutkan pengeluaran sektor kesehatan tumbuh 9–10% per tahun dalam satu dekade terakhir, namun pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam kontribusi terhadap PDB nasional karena tingginya ketergantungan pada produk impor.
“Aktivitas ekonomi yang menciptakan nilai dan lapangan kerja justru banyak terjadi di luar negeri. Karena itu, saya sangat mendukung pembangunan fasilitas produksi dalam negeri, baik untuk alat kesehatan, farmasi, rumah sakit hingga laboratorium,” ujarnya.
Budi memproyeksikan belanja kesehatan nasional berpotensi meningkat dari Rp640 triliun menjadi Rp1.400 triliun seiring bertambahnya populasi usia lanjut, sehingga peluang pengembangan industri kesehatan nasional sangat besar.
KEK sebagai Instrumen Indonesia Emas 2045
Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso menyoroti peran strategis KEK dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global. “Aglomerasi industri di kawasan industri dan KEK dapat menjadi pusat ekonomi baru. Hilirisasi, ekonomi hijau dan biru, serta integrasi ke rantai pasok global merupakan fondasi transformasi ekonomi,” katanya.
Menurutnya, forum yang diinisiasi KEK ETKI Banten dan SUAR menjadi wadah penting untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor demi mempercepat penciptaan lapangan kerja dan menarik investasi berkualitas.
Dukungan Pemerintah Perkuat Pengembangan KEK ETKI Banten
Strategy Advisor KEK ETKI Banten Mulyawan Gani menyampaikan apresiasinya terhadap pemerintah dan Dewan Nasional KEK yang terus memberikan dukungan konkret bagi pengembangan kawasan tersebut.
Ia menekankan bahwa KEK menawarkan daya tarik investasi jangka panjang, mulai dari insentif fiskal seperti tax holiday/tax allowance, kemudahan perizinan, hingga kelancaran mobilitas barang dan tenaga kerja.
“Kami optimistis kolaborasi yang solid dengan pemerintah dapat mempercepat terwujudnya KEK ETKI Banten sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berdampak luas bagi Indonesia,” tegasnya.
KEK ETKI Banten, yang ditetapkan pada 7 Oktober 2024, dirancang sebagai ekosistem terintegrasi yang menyatukan inovasi, riset, pendidikan, teknologi, dan industri kesehatan. Dengan infrastruktur modern serta insentif kompetitif, kawasan ini diharapkan mampu menarik investasi global dan memperkuat daya saing ekonomi Indonesia.
D-HUB SEZ Jadi Platform Kolaborasi Strategis
Kepala BUPP KEK ETKI Banten Lindawaty Chandra menegaskan bahwa penyelenggaraan forum ini menunjukkan posisi D-HUB SEZ sebagai kawasan yang prospektif.
“D-HUB SEZ bukan hanya kawasan bisnis, tetapi platform strategis yang mempertemukan pemerintah, akademisi, dan industri untuk menciptakan ekosistem kolaboratif yang mendorong investasi dan membuka lapangan kerja,” jelasnya.
Tantangan Pengembangan KEK Indonesia
Dalam forum diskusi, para peserta sepakat bahwa KEK telah terbukti berkontribusi pada peningkatan investasi, ekspor, substitusi impor, serta penyerapan tenaga kerja. Namun, pengembangan KEK masih perlu diperkuat.
Saat ini Indonesia memiliki 24 KEK dengan luas total 20.912 hektare, jauh lebih kecil dibanding negara pesaing seperti:
India: 375 KEK, Filipina: 419 KEK, Thailand: 622.000 hektare, Vietnam: 1.623.000 hektare, Malaysia: 2.147.300 hektare
Banyak negara juga mulai menawarkan insentif yang lebih kompetitif untuk menarik investor global. Selain itu, ketidakpastian regulasi masih menjadi faktor yang membuat investor ragu, sehingga kepastian hukum dan harmonisasi regulasi lintas kementerian menjadi kebutuhan mendesak.
Hasil dari forum ini diharapkan menjadi rujukan strategis untuk meningkatkan daya saing seluruh KEK di Indonesia serta memastikan kawasan tersebut mampu memberikan dampak nyata bagi pembangunan ekonomi nasional. (RIZ)















Discussion about this post