BALI, WT – Bagi Chef Mauro Santarelli, memasak bukan sekadar proses mengolah bahan menjadi hidangan. Di balik setiap masakan yang dimasak dengan api, terdapat cerita panjang tentang asal bahan, proses pemeliharaan, teknik pengolahan, hingga upaya mempertahankan karakter alami makanan.
Filosofi tersebut telah terbentuk sejak Mauro tumbuh di Argentina. Kedekatannya dengan alam dan kehidupan peternakan membuat makanan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kesehariannya. Pengalaman itu kemudian memengaruhi cara pandangnya dalam memahami kualitas bahan sebelum akhirnya masuk ke dapur.
Ketertarikannya terhadap dunia pangan juga membawanya mempelajari Agronomi. Tidak berhenti di ruang akademis, Mauro terlibat langsung dalam pengelolaan peternakan keluarga yang memiliki sekitar 800 ekor sapi. Dari sana, ia mendapatkan pengalaman mengenai proses panjang yang menentukan kualitas daging, mulai dari bagaimana hewan dipelihara hingga karakter bahan dapat dijaga sebelum diolah.
Perjalanan kuliner Mauro kemudian berlanjut ke Eropa. Ia sempat menjelajahi berbagai dapur di Barcelona dan Mallorca sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan profesionalnya ke Indonesia. Berbagai pengalaman tersebut memperluas perspektifnya mengenai hubungan antara bahan, teknik memasak, api, serta karakter sebuah tempat.
Di Chupacabras, filosofi tersebut diterapkan melalui teknik memasak menggunakan api sebagai salah satu elemen utama dalam pengalaman bersantap. Bagi Mauro, api bukan hanya sumber panas untuk mematangkan makanan, tetapi juga menjadi medium untuk mengeluarkan karakter alami dari bahan yang digunakan.
Proses memasak dengan api membutuhkan kepekaan terhadap bahan dan pengaturan panas. Menurut pendekatan Mauro, seorang koki perlu memahami kapan bahan membutuhkan panas lebih tinggi, kapan panas harus dikurangi, hingga kapan bahan perlu dibiarkan beristirahat. Dengan teknik yang tepat, hidangan dapat tetap sederhana sekaligus memiliki lapisan rasa yang kuat.
Latar belakang Argentina turut memberi pengaruh terhadap cara Mauro mengolah daging. Namun, pengalamannya selama berada di Indonesia membuka kesempatan untuk mengenal lebih banyak bahan dan karakter rasa lokal. Pertemuan antara tradisi kuliner Amerika Selatan dengan kekayaan bahan Indonesia kemudian menjadi bagian dari identitas yang dikembangkan di Chupacabras.
Karakter tersebut tidak hanya terlihat dari pilihan menu berbasis daging. Chupacabras juga mengeksplorasi berbagai bahan dan cita rasa yang memiliki keterkaitan dengan tradisi Amerika Selatan. Setiap hidangan dikembangkan dengan karakter tersendiri, tetapi tetap membawa prinsip yang sama, yakni memperhatikan kualitas bahan, ketepatan teknik, dan keberanian dalam menghadirkan rasa.
Pada akhirnya, pengalaman bersantap di Chupacabras tidak hanya berbicara tentang makanan yang berada di atas meja. Ada perjalanan bahan, teknik memasak, serta pengalaman orang-orang di balik hidangan yang menjadi bagian dari cerita tersebut.
Berawal dari Argentina, melewati berbagai dapur di Eropa, hingga berkembang di Bali, Chef Mauro Santarelli membawa lebih dari sekadar keterampilan memasak ke Chupacabras. Ia membawa pengalaman dalam memahami bahan, rasa ingin tahu untuk terus mengeksplorasi, serta pandangan bahwa makanan dapat menjadi cara untuk menceritakan karakter suatu tempat dan budaya. (RIZ)
















Discussion about this post