| Menko Kesra Kunjungi BPPT Serpong |
|
|
|
| Di Tulis Oleh admin |
| Jumat, 04 Mei 2012 22:36 |
"Sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan dari teknologi ini. Misalnya cadangan minyak yang makin berkurang, harusnya disikapi dengan temuan energi terbarukan yang bermanfaat," ucap Agung.
Dikatakanya, pasca reformasi, tidak ada suatu teknologi inovatif yang bisa dibanggakan. "Beberapa waktu lalu Mendagri mengeluhkan terhadap program teknologi tepat guna, yang makin menurun gebyarnya," katanya. Jumat (4/5).
Karena pasca reformasi ini memang tidak ada suatu terobosan teknologi tepat guna, sesuai kebutuhan masyarakat.
Sementara, menurut Marzan Iskandar, Kepala BPPT, sudah banyak teknologi tepat guna yang dihasilkan lembaganya dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Namun karena publikasi yang kurang, publik menjadi tidak tahu.
Misalnya saja program e-KTP, kata Marzan, itu adalah hasil rekayasa teknologi dari para peneliti BPPT. "Sekarang kami sedang merancang alat untuk e-voting, agar saat pemilu nanti mudah," ujarnya.
Selain itu BPPT juga menghasilkan alat perisalah atau pencatat omongan secara otomatis. Alat ini sudah digunakan oleh MK. "Bahkan untuk alat ini kami sudah mendapat royalti sebesar Rp 1 miliar, namun sampai sekarang belum kami ambil," kata Marzan.
Bahkan kata Marzan, pihaknya juga sudah menemukan biskuit ajaib bernama Bisku Neo, yang diperuntukkan bagi warga di daerah terpencil. "Biskuit ini untuk korban kelaparan, dengan makan biskuit ini sedikit bisa tahan lama laparnya. Untuk biskuit ini kami sudah bekerjasama dengan PT Tiga Pilar Sejahtera Tbk. Kami juga mendapat royalti Rp 250 juta," ucapnya.
Hudi Hastowo, Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), mengatakan hal yang sama. BATAN sendiri mengklaim telah melahirkan suatu benih padi kelas premium yang bisa dibanggakan. "Kami melakukan penelitian pemanfaatan energi nuklir untuk beberapa bidang mulai dari pembangkit listrik tenaga nuklir, pangan, hingga kesehatan. Untuk bidang pangan, kami menghasilkan benih padi kualitas premium," ucapnya.
Selain itu kacang kedele yang diproduksi dengan teknologi BATAN, kata Hudi, ukuran lebih besar dari kacang kedele impor. "Kalau kacang kedele impor berat 100 gr isi 25 butir, maka kedele produksi kami bisa 19 butir," ucapnya. (ade f/warta) |
| Artikel Terkait : |
|---|
|




Best Viewer By Firefox firefox