| Partispasi Masyarakat Rendah, Program e-KTP di Kabupaten Tangerang Tersendat-sendat |
|
|
|
| Di Tulis Oleh admin |
| Selasa, 08 Mei 2012 08:50 |
Di Kabupaten Tangerang, program nasional ini bahkan tersendat-sendat. Penyebabnya, meski telah diluncurkan sejak 2 April lalu tingkat partisipasi masyarakat rendah. Dengan batas waktu hingga September mendatang, dari 1.668.999 jumlah yang ditetapkan nasional, hingga saat ini baru terealisasi 158.383 orang saja. Kondisi ini terang saja membuat pejabat yang bersangkutan harus putar otak mencari solusi.
“Memang saat ini jumlah yang terekam masih sangat minim, per tanggal 5 Mei kemarin baru berkisar 158. 383 dari dari jumlah warga wajib KTP yang ditetapkan nasional sebesar 1.668.999, terlebih jika harus merujuk pada database kabupaten yang jumlahnya mencapai lebih dari 2 juta orang wajib KTP,” ujar Oong Sugiartono Kasi Data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Tangerang.
Menurut Oong, banyak faktor yang menyebabkan minimnya jumlah penduduk melakukan perekaman. Selain karena kurangnya kesadaran masyarakat serta minimnya alat menjadi penyebabnya masih sedikitnya jumlah penduduk yang telah terekam data untuk e-KTP.
Terlebih tambah Oong, dari dua alat yang tersebar di tiap kecamatan, alat tersebut banyak yang kondisinya rusak. “Hampir di setiap wilayah ada saja masalah di alat yang disediakan oleh pusat, bahkan di lima daerah proses perekaman harus terhenti selama lima hari karena alatnya harus mendapatkan perbaikan dahulu di Jakarta,” jelas Oong.
Untuk itu katanya, rencana selain akan meningkatkan ajakan kepada masyarakat dengan berkoordinasi bersama pihak kecamatan dan kelurahan, rencannaya Pemerintah Kabupaten akan menambah jumlah alat perekaman untuk ditempatkan di kecamatan-kecamatan yang memiliki jumlah penduduk wajib KTP terbanyak.
Camat Tigaraksa, Mas Yoyon Suryana mengakui masih minimnya jumlah warganya yang telah melakukan perekaman. Yoyon menjelaskan, dari satu kelurahan dan satu desa yang telah di lakukan proses pemanggilan untuk perekaman rata-rata, umumnya warganya yang datang hanya 50 persen saja.
“Pihak kecamatan dan kelurahan serta desa telah gencar melakukan sosialisasi, kami pun telah menempatkan operator hingga pukul 8 malam setiap harinya, bahkan siap hingga pukul 12 malam jika memang masih banyak warga yang melakukan perekaman, hanya saja entah kenapa masih minim,” jelas Yoyon.
Menurut Yoyon penyebab minimnya jumlah undangan yang datang selain karena kesibukan warga yang masih bekerja, juga karena banyaknya warga yang telah berusia lanjut sehingga mereka merasa tidak begitu perlu juga melakukan perekaman tersebut.
“Saat kami datangi ke warga banyak warga yang mengatakan bahwa mereka sudah terlalu tua sehingga tidak perlu lagi, oleh karenannya kita terus lakukan sosialisasi agar mereka mau. Sedangkan untuk para pekerja kebanyakan mereka kecapaian padahal jika mereka tidak bisa melakukan di jam kerja mereka juga bisa melakukannya di sore dan malam hari,” ujar Yoyon. (warta/003)
|
| Artikel Terkait : |
|---|
|




Best Viewer By Firefox firefox